TpY5GUWiGfA8BUG0GfziTpz5
0
    0

      Sosok Irwandi Jaswir: Penemu Teknologi Halal Dunia yang Lahir di Medan



      MAKASSAR, PACARITA - Namanya mungkin belum akrab di telinga kebanyakan orang Indonesia. Namun di panggung ilmu pengetahuan dunia Islam, Profesor Irwandi Jaswir adalah sosok yang disegani—seorang putra Medan yang mengubah cara dunia memverifikasi kehalalan makanan dan kosmetik, dan akhirnya memanen penghargaan tertinggi dari Raja Arab Saudi.

      Irwandi bukan ilmuwan biasa. Ia adalah otak di balik teknologi deteksi DNA babi dan alkohol pada produk konsumsi yang bekerja dengan kecepatan dan akurasi luar biasa. Temuannya memungkinkan produsen makanan dan lembaga sertifikasi halal di seluruh dunia mengidentifikasi kontaminan haram dalam hitungan waktu yang jauh lebih singkat dibanding metode konvensional.

      Tidak berhenti di sana. Irwandi juga berhasil meramu formula inovatif sebagai pengganti gelatin babi—bahan yang selama ini menjadi momok dalam industri pangan halal karena tersembunyi di balik label produk. Solusinya datang dari arah yang tak terduga: ekstrak ikan dan unta, dua bahan yang secara syariat Islam tidak diragukan kehalalannya.

      Ironisnya, perjalanan menuju pencapaian itu tak mulus di tanah kelahirannya sendiri. Bertahun-tahun Irwandi berupaya membangun pusat riset halal di Indonesia—negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Niat itu tulus, ilmunya mumpuni. Tapi tembok birokrasi yang tebal dan minimnya anggaran untuk penelitian ilmiah membuatnya berulang kali membentur jalan buntu.

      Fasilitas yang tersedia tidak sebanding dengan ambisi ilmiahnya. Dana riset yang ia butuhkan untuk mengembangkan teknologi halal skala besar tak kunjung datang. Satu per satu pintu tertutup, dan mimpi besar itu terpaksa ia simpan sementara di laci.

      Malaysia kemudian hadir dengan tawaran yang sulit ditolak. Negeri jiran itu membuka tangan lebar-lebar: laboratorium berteknologi tinggi, pendanaan riset yang memadai, dan posisi bergengsi sebagai guru besar tetap di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM). Irwandi menerima tawaran itu—dan takdirnya pun berbelok tajam.

      Di Malaysia, penelitiannya berkembang pesat. Teknologi yang ia bangun perlahan-lahan diakui oleh industri dan lembaga-lembaga internasional. Nama Irwandi Jaswir mulai terdengar melampaui batas-batas Asia Tenggara, masuk ke dalam percakapan ilmiah di Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika.

      Puncak pengakuan itu tiba pada 2018. King Faisal International Prize—penghargaan bergengsi yang kerap dijuluki sebagai Nobel dunia Islam—resmi disematkan kepada Profesor Irwandi Jaswir. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Raja Arab Saudi di Riyadh, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi ilmiahnya dalam mengembangkan ilmu halal selama lebih dari dua dekade.

      Penghargaan yang ia terima bukan sekadar trofi simbolis. Bersama gelar kehormatan itu, Irwandi mendapatkan sertifikat kaligrafi tulisan tangan yang merangkum karya-karyanya, piagam berlapis emas 24 karat, medali emas seberat 200 gram, serta hadiah uang tunai senilai 200.000 dolar Amerika Serikat—setara dengan sekitar 3,5 miliar rupiah.

      Momen itu begitu berarti baginya hingga ia membawa 21 orang untuk menyaksikannya secara langsung. Ibu, istri, anak-anak, kakak dan abangnya, serta sahabat-sahabatnya hadir bersama dalam perjalanan ke Riyadh. Setelah upacara penghargaan, rombongan keluarga itu melanjutkan perjalanan spiritual ke Madinah dan Mekah—sebuah momen yang sempurna antara pencapaian duniawi dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.

      “Alhamdulillah... sebuah anugerah yang tidak terbayangkan ketika saya menulis dan mengembangkan halal science 20 tahun lalu. Rasa syukur yang tidak terhingga,” kata Irwandi, merespons penghargaan tersebut dengan kalimat yang sederhana namun sarat makna.

      Dua puluh tahun. Itu waktu yang Irwandi habiskan untuk membangun fondasi ilmu yang kini diakui dunia. Dua puluh tahun yang di awalnya berjalan sunyi, tanpa banyak tepuk tangan, bahkan tanpa dukungan yang ia harapkan dari negara tempat ia dilahirkan.

      Kini teknologi ciptaan pria kelahiran Medan itu telah digunakan oleh berbagai pabrik dan lembaga kesehatan di berbagai penjuru bumi. Standar pengujian halal yang ia bantu kembangkan menjadi rujukan di banyak negara yang ingin memastikan produk mereka memenuhi syariat Islam dengan cara yang ilmiah dan terverifikasi.

      Kisah Irwandi Jaswir menjadi cermin yang menyakitkan sekaligus membanggakan. Menyakitkan karena Indonesia—negara yang seharusnya menjadi rumah terbesar bagi perkembangan ilmu halal—justru pernah membiarkan salah satu pionir terbaiknya pergi. Membanggakan karena di mana pun ia berpijak, darah Sumatera itu tetap mengharumkan nama Indonesia.

      Dalam konteks global, industri halal bukan lagi sekadar soal keagamaan sempit. Ini adalah pasar raksasa bernilai triliunan dolar yang melibatkan makanan, obat-obatan, kosmetik, pariwisata, hingga keuangan. Dan di jantung ekosistem itu, ada seorang ilmuwan Indonesia yang teknologinya menjadi salah satu pilar penting.

      Pertanyaan yang kini relevan untuk diajukan bukan lagi tentang siapa Irwandi Jaswir. Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak Irwandi lain yang masih menunggu di Indonesia, dengan ilmu di kepala dan mimpi di dada, tapi tak menemukan jalan karena birokrasi yang lambat dan perhatian yang minim terhadap riset sains?

      Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi episentrum halal dunia—populasi Muslim terbesar, potensi sumber daya alam yang melimpah, dan generasi ilmuwan muda yang terus tumbuh. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berinvestasi pada mereka sebelum negara lain datang lebih dulu menawarkan tempat yang lebih baik.

      Irwandi Jaswir telah membuktikan bahwa ilmuwan Indonesia mampu berdiri di antara yang terbaik di dunia. Kini giliran Indonesia membuktikan bahwa negara ini layak menjadi tempat mereka berdiri dan berkarya.

      اقرأ أيضًا:

      Loading...
      أضف تعليقًا

      0 تعليقات

      اكتب تعليقًا
      Next Post
      Next Post
      Ads
      Ads
      Ads