TpY5GUWiGfA8BUG0GfziTpz5
0
    0
      Breaking News

      Rumah Bambu Arsitek ITB di Bandung, Hemat Biaya hingga 30 Persen

      Rumah Bambu Tahan Gempa di Bandung Karya Arsitek ITB

      BANDUNG, PACARITA - Di lereng Bandung yang sejuk, sebuah rumah berdiri tanpa menebang satu pun pohon cengkeh tua di lahannya. Rumah bambu milik Ir. Budi Faisal, MAUD, MLA, PhD, ini menunjukkan bahwa hunian ramah lingkungan bisa tampil elegan, kuat, dan lebih murah dibanding rumah konvensional.

      Budi adalah arsitek sekaligus staf pengajar di Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung. Rumah itu ia bangun di Kompleks Eco Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, Jawa Barat, di atas lahan seluas 622 meter persegi. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)-nya hanya sekitar 15 persen, sehingga sebagian besar lahan tetap menjadi ruang hijau.

      Total luas bangunan mencapai 248 meter persegi. Lantai dasar seluas 116 meter persegi, sedangkan lantai atas seluas 132 meter persegi. Di atas lahan itu, Budi menerapkan tiga gagasan utama, yakni mengoptimalkan bambu, menghormati alam sekitar, dan memakai material bekas.

      Gagasan pertama paling mudah dikenali dari lantai. Di area eksterior, batang bambu utuh disusun berjajar di atas tumpuan beton, kayu, atau baja. Di bagian dalam, bambu menjadi penutup lantai, anak tangga, hingga lantai mezanin.

      Bambu juga hadir di teras dan plafon. Belahan bambu disusun rapi sehingga serat dan motif alaminya tampil sebagai hiasan. Anyaman bambu dipakai sebagai penutup ventilasi, dengan kerenggangan yang bisa disesuaikan.

      Dapur mendapat perlakuan serupa. Anyaman bambu dipasang langsung pada dinding dengan paku atau sekrup, menghadirkan kesan alami yang tetap elegan. Pada plafon, belahan bambu yang disusun tidak beraturan melahirkan pola visual yang khas.

      Gagasan kedua terlihat dari tata massa bangunan. Rumah ini dipecah menjadi dua massa utama di sisi timur dan barat. Pemecahan itu disengaja untuk menyelamatkan sembilan batang pohon cengkeh berusia 35 tahun yang sudah tumbuh di lokasi.

      Kedua massa dihubungkan jembatan semi permanen dari baja dan bambu. Deck penghubung itu menjadi jalur sirkulasi sekaligus penanda bahwa bangunan mengalah pada pohon, bukan sebaliknya.

      Kamar tidur ditempatkan di lantai atas agar privasinya lebih terjaga. Warna krem mendominasi ruangan untuk menghadirkan kesan sederhana dan nyaman. Dari bukaan kamar, penghuni dapat memandang pegunungan Bandung yang asri.

      Rumah ini juga merespons iklim dengan cermat. Bukaan di sisi barat dan timur sengaja diminimalkan karena identik dengan sengatan matahari. Bukaan utama diarahkan ke utara dan selatan, tempat pemandangan terbaik berada. Ke selatan terbentang Kota Bandung, ke utara tampak jajaran pegunungan.

      Di ruang tamu, satu bidang dinding dapat dibuka penuh. Dinding geser berbahan bambu itu, yang disebut sliding door atau sliding wall, menyatukan ruang dalam dan luar saat dibutuhkan. Hasilnya, ruang terasa lapang tanpa perlu menambah luas bangunan.

      Gagasan ketiga adalah pemanfaatan material bekas. Budi memakai balok dan papan kayu rasamala bekas, tulangan besi bekas, multipleks bekas, kaca etsa bekas, serta genteng palentong Jatiwangi bekas. Material yang sudah punya riwayat pakai itu diberi fungsi baru di rumah ini.

      Teknik konstruksinya pun tidak biasa. Rumah ini memakai dinding bambu berplester dengan kawat wiremesh, serta pelat lantai beton bertulang bambu. Sebagian besar dinding dibiarkan tanpa finishing sehingga warna asli semen plesteran dan acian terlihat.

      Pilihan estetika itu menuntut ketelitian. Pelaksanaan harus cermat dan semen yang dipakai harus berkualitas baik. Tanpa lapisan cat, setiap cacat pengerjaan akan langsung terlihat.

      Dari sisi biaya, kombinasi bambu dan material bekas ini disebut mampu menghemat ongkos konstruksi hingga 30 persen dibanding rumah konvensional. Penghematan itu menjadi argumen kuat bagi siapa pun yang ingin membangun rumah dengan anggaran terbatas.

      Soal keamanan, rumah bambu terbukti lebih tahan gempa dibanding rumah batu bata dan semen. Sifat materialnya ringan dan lentur, sehingga lebih mampu mengikuti guncangan tanah tanpa langsung patah atau runtuh. Bobot bangunan yang ringan juga memperkecil gaya inersia saat gempa terjadi.

      Banyak konstruksi bambu memakai sambungan ikat atau interlock tanpa paku kaku. Sistem itu memungkinkan struktur bergeser sedikit dan meredam energi gempa. Untuk rumah berbasis bambu atau kombinasi bambu dan tanah, penghematan biaya disebut bisa mencapai 30 hingga 40 persen.

      Namun kekuatan itu bersyarat. Berbagai kajian arsitektur tahan gempa, seperti metode Earthquake-Resistant Bamboo Architecture atau ErBa, menekankan tiga hal. Bambu harus berusia tua, minimal 3 hingga 5 tahun, karena seratnya lebih kuat.

      Bambu juga harus benar-benar kering dan diawetkan agar tidak mudah diserang rayap atau jamur. Adapun pondasi umumnya tetap memakai campuran semen dan batu atau besi untuk menopang struktur utama dengan aman.

      Rumah milik Budi Faisal memperlihatkan bahwa bambu layak dipertimbangkan sebagai material utama hunian modern. Ia hemat, ramah lingkungan, dan bisa tampil indah bila dirancang dengan cermat

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post
      Ads
      Seedbacklink
      Ads