MAKASSAR, PACARITA - Duka itu datang bukan dari medan perang bersenjata, melainkan dari tengah kepulan asap dan lidah api yang terus melumat hutan-hutan Indonesia. Sembilan orang, terdiri dari petugas lapangan dan relawan tangguh, telah mengembuskan napas terakhir mereka sepanjang tahun 2026, saat berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang kian ganas melanda berbagai penjuru negeri.
Mereka bukan tentara dengan rompi antipeluru. Mereka adalah manusia biasa yang memilih berdiri di garis terdepan, berhadapan langsung dengan api besar yang tidak kenal kompromi. Sebagian terjebak kobaran api yang mendadak membesar, sebagian lagi jatuh karena sesak napas akut, dan beberapa lainnya roboh akibat keracunan karbon monoksida dari asap pekat yang menebal berhari-hari.
Tragedi paling menyayat hati terjadi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Di Blok Pusung Lingker, Bukit Mentigen, lima orang sekaligus kehilangan nyawa ketika kepungan api tiba-tiba membesar tanpa peringatan. Di antara mereka, terdapat dua petugas Balai Besar TNBTS, Sukaris dan Hendra Rony Wagiyanata, yang telah bertahun-tahun mengabdikan diri menjaga kawasan taman nasional itu.
Tiga korban lainnya adalah relawan yang bukan bagian dari satuan formal, melainkan karyawan hotel di kawasan sekitar yang memilih turun tangan membantu pemadaman. Wisnu Yuda Pratama, Sefriel Ardiansyah, dan Munawi, nama-nama yang kini harus dikenang sebagai pahlawan lingkungan yang gugur bukan karena kewajiban dinas, melainkan karena panggilan hati nurani.
Dari Kalimantan Tengah, kabar duka menyusul. Tiga relawan lainnya menyerah pada kondisi fisik yang terus merosot setelah berhari-hari bertahan di lingkungan yang dipenuhi kabut asap berbahaya. Ketua TSAK Jekan Raya, Akhmad Rizani, menjadi salah satu dari mereka. Bersama Ahmadin alias Itam Madin dari Damkar Huma Singgah Itah dan Aries Sutio Luthfil Hadi dari anggota MPA, ketiganya gugur sebagai bukti nyata bahwa medan karhutla bisa sehebat medan tempur mana pun.
Di Kalimantan Selatan, satu nama lagi harus dicatatkan dalam daftar panjang duka itu. Nurdin, yang lebih dikenal dengan sapaan Amang Udin, seorang relawan dari Damkar Kayu Bulan di Barito Kuala, mengeluhkan nyeri dada dan sesak napas yang semakin parah. Ia berada paling depan saat menghalau api, dan tubuhnya akhirnya tidak mampu lagi menahan dampak paparan asap yang begitu masif.
Kebakaran hutan dan lahan bukan fenomena baru di Indonesia. Setiap tahun, terutama saat musim kemarau panjang, puluhan ribu hektare lahan habis dilalap api, baik akibat faktor alam maupun ulah manusia yang membuka lahan dengan cara membakar. Namun tahun 2026 mencatat babak yang terasa lebih berat dari sebelumnya, ketika angka korban jiwa dari kalangan petugas dan relawan menembus angka sembilan orang dalam satu tahun.
Yang membuat situasi ini semakin memprihatinkan adalah kenyataan bahwa para relawan sering kali bekerja dalam kondisi minim perlindungan. Mereka tidak selalu dilengkapi alat pelindung diri yang memadai, tidak semua mendapatkan pelatihan keselamatan kerja yang standar, dan dalam banyak kasus, mereka bergabung atas dasar sukarela tanpa jaminan keselamatan yang jelas. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, keluarga yang ditinggalkan kerap harus berjuang sendirian menghadapi kepedihan.
Gugurnya sembilan nyawa ini sontak memicu gelombang desakan dari berbagai kalangan agar pemerintah tidak sekadar berduka cita di atas panggung. Masyarakat sipil, organisasi lingkungan hidup, hingga sesama relawan menyerukan perlunya standar keamanan dan kesehatan kerja yang lebih ketat dalam setiap operasi pemadaman karhutla. Jaminan keselamatan bukan kemewahan, ia adalah hak dasar setiap orang yang bersedia mempertaruhkan nyawa demi kepentingan bersama.
Tuntutan lainnya tidak kalah mendesak yaitu penyaluran santunan yang layak bagi keluarga korban. Bagi istri yang ditinggal suami, bagi orang tua yang kehilangan anak, bagi anak-anak kecil yang harus tumbuh tanpa ayah, bantuan konkret dari negara adalah bentuk pengakuan paling nyata bahwa pengorbanan mereka sungguh dihargai.
Lebih dari sekadar santunan, masyarakat menuntut agar penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan diperketat secara serius. Selama pembakaran lahan terus dianggap sebagai jalan pintas yang mudah dilakukan dan minim konsekuensi hukum, maka siklus tragedi ini akan terus berulang. Setiap musim kemarau akan kembali membawa berita duka, dan nama-nama baru akan terus bertambah dalam daftar para pejuang yang gugur.
Karhutla bukan sekadar soal asap dan kabut yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Ia adalah krisis ekologis yang telah merenggut nyawa, merusak ekosistem, memperburuk kualitas udara jutaan orang, dan menjadi cermin besar bagi kegagalan kolektif kita dalam merawat bumi yang ditinggali bersama. Setiap pohon yang terbakar membawa serta habitat yang hancur, sumber air yang menyusut, dan masa depan yang semakin sempit.
Kita boleh saja menunduk sejenak, menghaturkan doa, dan menyeka air mata. Namun berhenti di sana bukan pilihan yang adil bagi mereka yang telah pergi. Penghormatan paling tulus untuk Sukaris, Hendra, Wisnu, Sefriel, Munawi, Akhmad, Ahmadin, Aries, dan Nurdin adalah tekad bersama untuk memastikan tidak ada lagi nyawa yang harus terenggut demi memadamkan api yang seharusnya tidak pernah dinyalakan.
Mereka pergi bukan sebagai orang-orang yang kalah. Mereka pergi sebagai penjaga, sebagai pemberani, sebagai bukti bahwa masih ada manusia yang bersedia menanggung beban bersama atas nama keselamatan alam dan sesama. Dan kita yang masih ada memiliki kewajiban moral untuk meneruskan perjuangan itu, bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata yang mengubah keadaan.
Innalillahi wa innailaihi raji’un. Selamat jalan, para pahlawan. Semoga nama kalian selalu diingat, dan semoga perjuangan kalian tidak pernah sia-sia.


0 Komentar