MAKASSAR, PACARITA - Sembilan tahun adalah waktu yang sangat panjang untuk menunggu seseorang pulang. Namun itulah yang dilakukan keluarga Asrul, seorang pria asal Sinjai, Sulawesi Selatan, yang meninggalkan rumah lebih dari satu dekade lalu dan sejak saat itu tidak pernah memberikan kabar.
Asrul, yang akrab disapa Uddu, terakhir kali diketahui berada di Makassar setelah merantau dari kampung halamannya di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 17, kawasan selatan SD 23 Biringere, Sinjai. Ia pergi tanpa pesan, tanpa tanda, dan tanpa kabar yang bisa dipegang oleh orang-orang yang mencintainya.
Yang membuat pencarian ini semakin sulit, Asrul tidak bisa membaca dan tidak memiliki telepon genggam. Dua hal yang di zaman sekarang menjadi jembatan utama antara seseorang dengan dunianya, tidak dimiliki oleh Asrul. Keluarga tidak bisa menelepon. Tidak bisa mengirim pesan. Tidak ada nomor yang bisa dihubungi untuk sekadar memastikan ia masih baik-baik saja.
Ayah Asrul, Untung, telah meninggal dunia. Ia pergi tanpa sempat melihat anaknya kembali. Kini ibunya, Salmiah yang biasa dipanggil Sale, masih menunggu. Sebuah penantian yang sudah melewati banyak musim, banyak lebaran, banyak momen kebersamaan keluarga yang terasa tidak lengkap tanpa kehadiran Asrul.
Kepergian Asrul bukan tanpa upaya pencarian. Keluarga menyebutkan bahwa mereka telah berusaha mencari jejaknya, bahkan sampai hampir kehilangan harapan. Namun justru di titik itulah mereka memilih untuk tidak menyerah, dan kini membawa kisah ini ke ruang yang lebih luas, berharap ada sepasang mata di luar sana yang pernah melihat wajah Asrul.
Makassar adalah kota besar dengan jutaan wajah yang datang dan pergi setiap harinya. Orang-orang datang dari berbagai penjuru Sulawesi untuk mengadu nasib, mencari kerja, atau sekadar mencoba peruntungan di ibu kota provinsi itu. Asrul kemungkinan besar adalah salah satu dari sekian banyak perantau yang melebur di antara keramaian kota.
Namun kondisi Asrul yang tidak bisa membaca dan tidak memiliki ponsel membuatnya rentan. Tanpa kemampuan membaca papan nama jalan, tanpa perangkat untuk berkomunikasi, seseorang bisa dengan mudah tersesat bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial. Ia bisa ada di mana saja tanpa siapa pun mengetahui identitasnya, dan tanpa ia sendiri mampu meminta bantuan dengan cara yang dikenal orang banyak.
Cerita seperti ini lebih umum terjadi dari yang kita sadari. Di balik hiruk-pikuk kota besar, ada orang-orang yang hidup di pinggiran sistem, tanpa dokumen yang memadai, tanpa jaringan sosial yang kuat, dan tanpa kemampuan mengakses layanan yang tersedia. Mereka ada, tapi tidak terlihat.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, ketidaktahuan adalah beban tersendiri. Tidak tahu apakah orang yang dicintai masih hidup atau sudah tiada. Tidak tahu apakah mereka makan hari ini atau tidak. Tidak tahu apakah mereka aman atau dalam bahaya. Kondisi itu menggerogoti rasa tenang perlahan-lahan, jauh lebih menyakitkan dari sebuah kabar buruk yang jelas.
Keluarga Asrul kini memilih untuk membuka pencarian ini secara terbuka. Mereka berharap kekuatan media sosial dan simpul-simpul komunitas bisa menjadi perpanjangan tangan yang selama ini tidak mereka miliki. Satu foto, satu nama, satu cerita yang menyebar dari satu layar ke layar lain, bisa saja berakhir di tangan seseorang yang kebetulan mengenal Asrul atau pernah melihatnya.
Nama Asrul memang sederhana. Tapi bagi ibunya Sale, bagi saudara-saudaranya, nama itu menyimpan seluruh doa dan kerinduan yang tidak pernah padam. Setiap kali ada kabar tentang orang hilang, ada harapan kecil yang menyala. Setiap kali kabar itu bukan tentang Asrul, ada sedikit kekecewaan yang disimpan diam-diam.
Kasus orang hilang seperti Asrul kerap luput dari perhatian publik karena tidak memiliki elemen dramatik yang biasa menjadi daya tarik media. Tidak ada konflik terbuka, tidak ada dugaan kriminal, tidak ada tokoh terkenal yang terlibat. Hanya seorang anak yang pergi merantau dan tidak pernah kembali.
Namun justru karena kesederhanaannya itulah kisah ini menyentuh sesuatu yang sangat manusiawi, kerinduan seorang ibu, kesetiaan keluarga yang tidak berhenti mencari, dan harapan bahwa di luar sana seseorang mungkin bisa menjadi jembatan antara Asrul dan keluarganya.
Pihak keluarga tidak menjelaskan alasan awal kepergian Asrul ke Makassar. Apakah ia pergi untuk bekerja, ikut seseorang, atau memiliki tujuan lain, tidak diketahui secara pasti. Yang pasti, kepergiannya berlangsung sekitar sembilan tahun lalu, dan sejak saat itu tidak ada lagi kontak antara Asrul dengan siapa pun di Sinjai.
Kondisi Asrul yang buta huruf dan tidak memiliki ponsel memang membuat jalur komunikasi menjadi sangat terbatas. Namun bukan berarti tidak ada harapan. Banyak komunitas sosial, relawan pencarian orang hilang, masjid, dan organisasi kemasyarakatan di kota besar yang aktif membantu orang-orang yang tersesat dari keluarganya.
Jika ada yang mengenal atau pernah melihat seseorang bernama Asrul dengan ciri-ciri yang sesuai, khususnya di wilayah Makassar dan sekitarnya, keluarga sangat mengharapkan informasi tersebut segera disampaikan. Tidak perlu banyak, cukup satu petunjuk kecil yang bisa membuka jalan menuju pertemuan yang sudah lama dinantikan.
Di ujung semua pencarian ini, ada satu kalimat sederhana yang keluarga titipkan dengan sepenuh hati kepada Asrul, ke mana pun angin membawa pesan ini sampai. Pulanglah. Semua keluarga merindukanmu.
Bagi siapa saja yang memiliki informasi mengenai keberadaan Asrul, dapat menghubungi pihak keluarga di nomor 085242457558.


0 Komentar