SINJAI, PACARITA - Titi Kamal tidak main-main ketika memutuskan kembali ke layar lebar lewat film horor. Dalam The Doll Ghawiah, aktris yang telah malang-melintang di industri hiburan Indonesia ini menghadapi tantangan fisik dan psikologis yang jauh melampaui ekspektasinya—dari adegan laga berat hingga ketakutan nyata saat harus menggantung di ketinggian menggunakan sling.
Film produksi Hitmaker Studios ini menempatkan Titi dalam karakter seorang ibu bernama Evi, peran yang menuntut totalitas luar biasa. Bukan sekadar berakting ketakutan di depan kamera, Titi benar-benar harus menguras cadangan stamina fisiknya selama proses pengambilan gambar berlangsung.
“Yang pasti, adegan-adegan di film The Doll Ghawiah ini lumayan menguras fisik,” ungkap Titi Kamal saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan belum lama ini. Pengakuan jujur itu bukan sekadar basa-basi promosi—istri aktor Christian Sugiono ini memang dikenal sebagai sosok yang selalu terlibat penuh dalam setiap perannya.
Untuk menjaga kondisi di tengah jadwal syuting yang padat, Titi memilih cara yang tidak biasa. Di sela jeda pengambilan gambar, ia menyempatkan diri menyatu dengan alam—mengunjungi curug, menyusuri hutan, dan menjauhi hiruk-pikuk kota sementara. Baginya, alam terbuka bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan sumber pemulihan energi yang sesungguhnya.
“Makanya pas lagi tengah-tengah break syuting, aku main ke curug, ke hutan, ke mana-mana tuh biar refresh terus tiap harinya,” tuturnya. Rutinitas itu terbukti efektif menjaga keseimbangan mental dan fisiknya sepanjang produksi berlangsung.
Dari sekian banyak adegan mendebarkan dalam film ini, satu momen paling melekat dalam ingatan Titi—penggunaan sling atau tali pengaman saat beraksi di ketinggian. Bagi kebanyakan orang, ini mungkin terdengar seperti tantangan profesional biasa. Bagi Titi, ini soal perang melawan pikiran sendiri.
Ia mengaku dirinya adalah seorang overthinking yang akut. Naik tangga biasa pun sudah cukup membuatnya banyak pikiran, apalagi harus bergantung pada sling di ketinggian. “Iya, untuk pakai sling itu sesuatu yang deg-degan, seru. Tapi aku kan orangnya overthinking banget ya sebenarnya,” katanya sambil tertawa kecil.
Yang membuat situasi itu terasa lebih intens adalah kehadiran bayangan anak-anaknya di setiap momen berbahaya yang ia hadapi. Sebagai seorang ibu, rasa khawatir itu datang otomatis dan tidak bisa dikendalikan begitu saja. “Kalau aku lagi naik tangga, di kepala aku tuh anak-anak aku gambarnya gitu kan, ‘Eh ya Allah, bismillah ya Allah,’ gitu, gimana naik sling gitu kan,” lanjutnya sembari tersenyum.
Perubahan itu terasa nyata bagi Titi, terutama ketika ia membandingkan dirinya hari ini dengan versi mudanya yang jauh lebih nekat. Dulu, sebelum menikah dan punya anak, keberanian seperti itu datang tanpa pikir panjang. Ia bahkan pernah tanpa ragu terjun ke danau di kawasan Depok pada tengah malam—sesuatu yang kini hampir mustahil ia bayangkan dilakukannya.
“Padahal kalau zaman aku masih dulu, itu aku sampai nyebur ke danau di Depok juga aku berani malam jam 12 malam gitu,” kenangnya. Kini, bertambahnya usia dan tanggung jawab sebagai seorang ibu membuat kalkulasi risiko dalam hidupnya berubah sepenuhnya.
Namun Titi tidak ingin berhenti di situ. Ketakutan yang menggerogoti tidak dibiarkannya menang. Ia menemukan jawabannya pada profesionalisme tim di balik layar The Doll Ghawiah, khususnya pada standar keamanan ketat yang diterapkan oleh Hitmaker Studios dan arahan sutradara Guntur Soeharjanto.
Kepercayaan itu tumbuh perlahan, dan pada akhirnya mengalahkan overthinking-nya. “Alhamdulillah luar biasa memang kalau Hitmaker ya, dari safety procedure-nya, segala macam, terima kasih lho Pak Guntur, Pak Rocky, luar biasa. Jadi bikin aku enggak overthinking gitu,” tutup Titi dengan rasa syukur yang terasa tulus.
Guntur Soeharjanto, sutradara yang namanya berulang kali disebut Titi dengan penuh apresiasi, memang dikenal sebagai sineas yang serius dalam urusan keselamatan di lokasi syuting. Di tangannya, jadwal produksi yang ketat tetap berjalan dengan timeline yang jelas dan terorganisasi—hal yang sangat diapresiasi para pemerannya.
The Doll Ghawiah bukan hanya soal Titi Kamal. Film ini membangun dunianya lewat deretan nama-nama yang tidak asing di industri hiburan Indonesia. Aisyah Aqilah, Sara Wijayanto, Darius Sinathrya, hingga Laura Moane turut meramaikan kisah horor yang dipersiapkan dengan serius ini.
Sara Wijayanto, yang selama ini lekat dengan dunia mistis dan horor, menjadi salah satu daya tarik tambahan yang dipastikan memperkuat atmosfer mencekam film ini. Kehadirannya di proyek The Doll Ghawiah seakan menjadi jaminan bahwa film ini tidak setengah-setengah dalam membangun teror.
Sementara itu, Darius Sinathrya—yang juga merupakan suami Sara Wijayanto dalam kehidupan nyata—ikut melengkapi ensemble cast yang terbilang menarik. Perpaduan aktor dengan latar belakang berbeda ini menjanjikan dinamika yang beragam di dalam film.
The Doll Ghawiah dijadwalkan tayang di bioskop pada 29 Oktober 2026, tepat menjelang momen akhir Oktober yang identik dengan nuansa horor di berbagai belahan dunia. Hitmaker Studios tampaknya dengan cermat memilih tanggal rilis yang akan memaksimalkan antusiasme penonton genre ini.
Bagi Titi Kamal, film ini bukan sekadar proyek kerja. Ini adalah pembuktian bahwa seorang aktris yang kini menjalani peran ganda—sebagai profesional di depan kamera sekaligus seorang ibu—masih bisa mendorong batas kemampuannya. Dengan segala rasa takut dan kekhawatiran yang menyertai, ia tetap hadir, tetap berakting, dan tetap memberikan yang terbaik.
Dan mungkin, itulah ketegangan paling nyata yang tersimpan di balik film The Doll Ghawiah—bukan hanya dari boneka yang menghantui layar, tetapi dari perjuangan seorang ibu yang melawan ketakutannya sendiri demi satu peran yang ia percayai.

0 Komentar