TpY5GUWiGfA8BUG0GfziTpz5
0
    0
      Breaking News

      Enam Piala Citra dan Warisan Abadi Teguh Karya bagi Sinema Indonesia


      PACARITA
      - 
      Enam dekade berlalu, nama Teguh Karya tetap berdiri kokoh di puncak sejarah perfilman Indonesia—sebagai satu-satunya sutradara yang hingga kini belum tertandingi dalam perolehan Piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik.

      Tidak ada yang meragukan warisannya. Enam Piala Citra Sutradara Terbaik. Lebih dari 54 piala bergengsi yang dikumpulkan film-film garapannya. Dan sebuah sanggar di Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang dindingnya masih berbicara tentang kejayaan itu—lewat foto-foto lawas, naskah-naskah usang, dan lemari kaca penuh trofi yang mengkilat di antara debu kenangan.

      Lelaki yang kemudian dunia kenal sebagai Teguh Karya itu lahir di Maja, Banten, pada 22 September 1937, dengan nama Liem Tjoan Hok. Ia putra seorang perantau Tionghoa dan seorang ibu asal Bekasi. Setelah dibaptis, ia mendapat nama tambahan Steve. Namun ketika dunia perfilman memanggilnya, ia memilih nama baru—Teguh Karya—sesuai kebijakan pemerintah Indonesia kala itu.

      Masa kecilnya tidak serba kekurangan. Ayahnya mengelola toko kelontong yang cukup menghidupi keluarga. Ibunya menyimpan harapan sederhana namun kuat: anak sulungnya akan menjadi pendeta. Maka Teguh kecil rajin terlibat dalam drama gereja, terutama saat Natal. Demi menghormati sang ibu, ia sempat masuk jurusan Teologi di perguruan tinggi. Namun naluri seninya terlalu kuat untuk dibendung.

      Di rumah pamannya dari pihak ibu—seorang guru Bahasa Indonesia yang kaya buku—Teguh remaja berkenalan dengan karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana. Saat usianya baru 14 tahun, bibit kecintaan pada sastra dan seni sudah bersemi dalam dirinya.

      Lompatan besar itu datang dari selembar iklan koran. Sebuah sekolah teater di Yogyakarta membuka pendaftaran untuk lulusan SMP. Setelah lulus SMP pada 1953, Teguh bergegas merantau ke Yogyakarta. Kepada orang tuanya, ia berkata hendak belajar pertanian. Mereka merestuinya dengan bekal Rp50—uang yang tentu saja tidak cukup untuk bertahan lama di kota asing.

      Untungnya, ia lulus seleksi masuk Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI). Untuk bertahan hidup, Teguh bekerja sebagai penjaga toko sepeda di pagi hari sebelum bersekolah. Tapi kesulitan finansial menghantamnya cukup keras, dan ia terpaksa pulang ke Banten.

      Empat tahun kemudian, iklan lain kembali mengubah hidupnya. Pada 1957, Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) dibuka di Jakarta untuk lulusan SMA. Teguh belum tamat SMA, tapi ia tidak menyerah. Ia diterima sebagai mahasiswa luar biasa—hanya boleh kuliah sore. Paginya bekerja di Pusat Perfilman Nasional, malamnya les privat untuk menyelesaikan SMA.

      Kegigihan itu berbuah manis. Setahun kemudian, Teguh resmi menjadi mahasiswa penuh di ATNI. Di sanalah ia bertemu para maestro—Usmar Ismail, Asrul Sani, D. Djajakusuma—yang membentuk visi artistiknya. Di ATNI pula ia bersentuhan untuk pertama kalinya dengan teater Barat: dramaturgi, sejarah, repertoar, dan penataan artistiknya. Pengalaman itu ia gambarkan sendiri dalam buku Teguh Karya dan Teater Populer 1968-1993 sebagai perkenalan yang membuka cakrawala.

      Setelah lulus, Teguh mengajar di ATNI sembari menjabat Manajer Panggung di Hotel Indonesia. Di sela kesibukannya, ia membuka kursus akting untuk mahasiswa berbakat. Dari seleksi ketat itu, muncul nama-nama yang kelak mengguncang layar perak Indonesia: N. Riantiarno, Slamet Rahardjo, dan Mieke Widjaja.

      Presiden Soekarno memberi mandat kepada Hotel Indonesia untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada wisatawan. Teguh mendapat tanggung jawab itu. Ia berkeliling berbagai daerah, mengamati beragam bentuk kesenian, dan semakin mencintai teater.

      Pada 14 Oktober 1968, Teater Populer Hotel Indonesia resmi berdiri. Teguh mengumpulkan rekan-rekan seprofesi—Tuti Indra Malaon, Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Niniek L. Karim, dan belasan nama lainnya—untuk membangun sebuah kelompok teater yang ingin menjangkau semua kalangan. Pementasan kedua mereka, Kammerherre Alving dan Antara Dua Perempuan, dihadiri 800 penonton di Bali Room Hotel Indonesia. Media massa memujinya. Sekitar 3.000 orang mendaftar sebagai penonton tetap dengan iuran Rp250 per bulan.

      Teguh punya prinsip yang sederhana namun dalam. Ia ingin teater bisa dinikmati siapa saja—bukan hanya kalangan tertentu. “Teguh Karya membuat karya yang mudah dicerna orang. Itu lebih sulit dibanding buat karya jelek banget atau bagus banget,” kenang Slamet Rahardjo.

      Antara 1968 hingga 1970, ada 18 pementasan di Bali Room Hotel Indonesia—semuanya adaptasi naskah Barat. Ketika Taman Ismail Marzuki (TIM) diresmikan, kelompok ini berpindah panggung. Nama pun berubah menjadi Teater Populer, dan anggotanya terus bertambah.

      Lalu Teguh melangkah ke dunia film—dan di sinilah segalanya menjadi lebih kompleks. Film pertamanya, Wajah Seorang Laki-Laki (1972), langsung disambut kritik pedas. Harian Kompas edisi 13 Mei 1972 memuat ulasan Emmanuel Subangun yang menyebut akting para pemain terasa dibuat-buat, editing tidak rapi, dan klimaks terasa datar.

      Tapi Teguh tidak berhenti. Ia terus berbenah. Dan tujuh tahun kemudian, pada 1979, November 1828 menjadi pembuktiannya. Film itu meraih delapan Piala Citra, dan kritikus Kris JB menulis di Kompas bahwa film tersebut menjadi tonggak yang berhasil menembus hambatan teknis yang selama ini mengungkung perfilman Indonesia.

      Setelah itu, nama Teguh Karya identik dengan Piala Citra. Ibunda (1986) menjadi film dengan perolehan terbanyak—sembilan piala, termasuk Sutradara Terbaik dan Film Cerita Terbaik. Badai Pasti Berlalu (1977), adaptasi novel Marga T, meski hanya meraih tiga piala, justru bertahan sebagai film yang paling dikenang generasi demi generasi—berkat akting Christine Hakim, Roy Marten, dan Slamet Rahardjo, serta lagu tema yang dibawakan Chrisye dengan komposisi Eros Djarot.

      Enam Piala Citra Sutradara Terbaik digenggamnya dari Cinta Pertama (1973), Ranjang Pengantin (1974), November 1828 (1979), Di Balik Kelambu (1982), Ibunda (1986), hingga Pacar Ketinggalan Kereta (1989). Rekor itu sampai hari ini belum ada yang menyentuhnya.

      Di luar film dan teater, Teguh juga menyutradarai sekitar 20 judul sinetron sepanjang 1968-1993. Naskahnya beragam—ada yang ia tulis sendiri, ada adaptasi sastrawan internasional seperti Anton Chekhov, ada pula karya anggota Teater Populer seperti N. Riantiarno.

      Yang membedakan Teguh dari sutradara lain bukan sekadar jumlah karya atau piala. Slamet Rahardjo menyebutnya dalam satu kata: kaderisasi. Teguh sadar bahwa warisan sejati seorang seniman bukan hanya karya, melainkan orang-orang yang ia bentuk. Tanpa Teguh, nama-nama seperti Christine Hakim, Niniek L. Karim, dan N. Riantiarno mungkin tidak akan hadir dalam sejarah seni pertunjukan Indonesia.

      Penyair W.S. Rendra pun mengakui pengaruh Teguh. Tanpa dorongan Teguh, Rendra mengaku tidak akan seserius itu mengelola Bengkel Teater. Teguh memandang rekan-rekannya sesama pegiat teater bukan sebagai pesaing, melainkan kawan yang harus ditopang bersama.

      Di sanggar Teater Populer di Tanah Abang, waktu terasa berhenti di satu titik. Lemari kaca menyimpan puluhan piala. Dinding-dinding memajang foto syuting, pementasan, dan momen penghargaan. Di sudut ruangan, tumpukan binder tebal menunggu diarsipkan—naskah-naskah karya Teguh yang belum sempat dirapikan.

      Slamet Rahardjo, kini 75 tahun, masih memimpin Teater Populer. Pada akhir 2024, ia mempersiapkan pementasan Dag Dig Dug bersama Niniek L. Karim. Bukan pementasan besar dengan anggota baru yang banyak, tapi sebuah karya yang tetap merawat semangat awal: kreativitas tidak boleh mati.

      Kata-kata itu bukan sekadar semboyan. Kalimat itu terukir di batu nisan Teguh Karya, yang berpulang pada 11 Desember 2001—meninggalkan panggung yang ia bangun dengan segenap hidupnya, dan nama yang belum juga bisa dilampaui siapa pun.

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post
      Ads
      Ads
      Ads

      Info

      Info
      • 59 Street, 06 Lane, Newyork
      • +0123456789
      • info@domainku.com