
Jejak Dakwah Sunan Kudus dalam Sepiring Sate Kerbau yang Menggugah Selera
KUDUS, PACARITA - Di setiap sudut Kota Kudus, asap tipis mengepul dari bara arang yang mematangkan tusuk-tusuk sate. Bukan sate ayam, bukan pula sate kambing. Yang tersaji di sini adalah sate kerbau, kuliner khas yang menyimpan kisah dakwah, toleransi, dan identitas sebuah kota yang telah berdiri sejak abad ke-15.
Sate kerbau Kudus bukan sekadar makanan. Ia adalah dokumen sejarah yang bisa disantap. Dagingnya yang empuk disajikan dengan bumbu saus berbahan gula kelapa, cabai, garam, kacang tanah, dan serundeng—parutan kelapa yang digoreng dengan berbagai rempah hingga berwarna kuning kecokelatan. Perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas ini menjadi ciri khas yang tidak ditemukan pada sate-sate dari daerah lain di Indonesia.
Kudus sendiri adalah kota kabupaten yang berada di jalur pantai utara Jawa. Selama ini kota ini lebih dikenal sebagai pusat industri gula, penenunan, percetakan, dan rokok kretek. Namun jauh sebelum industri-industri itu berdiri, kehidupan warganya sederhana: mayoritas mencari nafkah sebagai nelayan dan pembuat jaring, mengikuti irama laut seperti kebanyakan masyarakat pesisir.
Semuanya berubah ketika seorang ulama dari keturunan Timur Tengah tiba di kota ini pada abad ke-15. Dialah Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan, yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus, salah satu dari Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa. Kedatangannya bukan hanya membawa perubahan keyakinan, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian. Dari komunitas nelayan, Kudus bertransformasi menjadi kota dagang yang dinamis, sekaligus mendapat julukan “Kota Santri” yang bertahan hingga hari ini.
Nama “Kudus” sendiri menyimpan cerita yang jauh melampaui batas Jawa. Kota ini awalnya bernama Loaram, diambil dari nama pohon lo—sejenis buah kluwing—yang tumbuh di wilayah tersebut. Nama itu kini masih hidup sebagai nama sebuah desa, Ngloram. Ada pula yang menyebutnya Kota Tajug, merujuk pada bangunan berbentuk atap tradisional kuno yang biasa dipakai umat Hindu untuk beribadah.
Lalu datanglah nama baru. Sunan Kudus memberi nama kota ini dari bahasa Arab, Al-Quds, yang berarti “suci” atau “kudus.” Nama itu merujuk pada Kota Yerusalem di Palestina—tempat sang wali menimba ilmu agama sebelum kembali berdakwah di Jawa. Di mulut orang-orang Jawa, lafal Al-Quds bergeser menjadi “Kudus,” dan nama itulah yang bertahan hingga sekarang.
Prinsip dakwah Sunan Kudus berbeda dari kekerasan yang kerap mewarnai penyebaran agama di berbagai belahan dunia. Beliau memegang teguh kaidah mau’izhatul hasanah wa mujadalah billati hiya ahsan: menyampaikan ajaran Islam dengan menyesuaikannya pada adat, budaya, dan kepercayaan masyarakat setempat. Pada masa itu, mayoritas penduduk Kudus memeluk agama Hindu, yang memuliakan sapi sebagai hewan suci.
Dalam konteks itulah Sunan Kudus mengambil keputusan yang hingga kini menjadi warisan tak tertulis di Kudus. Beliau menganjurkan para pengikutnya untuk tidak menyembelih sapi, meskipun dalam ajaran Islam tidak ada larangan memakan daging sapi. Ini bukan kelemahan iman, melainkan kecerdasan dakwah: membangun jembatan antarumat, bukan tembok pemisah.
Sebagai gantinya, kerbau menjadi hewan yang lazim disembelih. Lambat laun, daging kerbau pun menjadi bahan baku utama dalam tradisi kuliner Kudus. Hingga kini, jejak prinsip toleransi itu bisa ditemukan bukan hanya dalam catatan sejarah, tetapi juga di atas piring makan warga Kudus sehari-hari.
Ragam kuliner berbahan kerbau di Kudus sungguh kaya. Ada soto Kudus dengan kuah bening yang segar, berisi irisan daging kerbau dan disajikan dalam mangkuk kecil yang khas. Ada nasi pindang, yakni nasi berkuah kecokelatan yang diolah bersama daging kerbau, pindang, dan daun melinjo. Dan tentu saja, sate kerbau yang menjadi ikon kuliner kota ini.
Selain olahan kerbau, Kudus juga punya deretan penganan khas lain yang patut dicoba. Lentog tanjung—lontong yang disajikan bersama sayur nangka, lodeh tahu, dan siraman sambal cair—menjadi sarapan favorit warga lokal. Ada garang asem Kudus, olahan ayam bersantan dengan rasa asam dan pedas yang menggugah selera. Lepet, kudapan dari beras ketan dan kacang tolo yang dibungkus daun kelapa dan diikat tali, juga menjadi camilan yang mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional.
Kini, di setiap sudut kota, warung sate kerbau tetap buka setiap hari. Aroma serundeng yang harum bercampur asap arang menciptakan daya tarik yang sulit ditolak. Para penikmatnya tidak hanya warga lokal; wisatawan dari berbagai kota datang khusus untuk mencicipi cita rasa yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Yang membuat sate kerbau Kudus begitu istimewa bukan semata soal bumbunya. Ada dimensi lain yang menjadikannya lebih dari sekadar sajian protein di atas bara. Setiap gigitan adalah pengingat bahwa Kudus pernah—dan masih—menjadi tempat di mana perbedaan keyakinan bisa hidup berdampingan dalam kerukunan. Sebuah warisan dari seorang wali yang memilih jalan damai, bukan jalan konfrontasi.
Sunan Kudus telah wafat berabad-abad silam. Masjid Menara Kudus yang dibangunnya masih berdiri kokoh dengan arsitektur unik yang memadukan unsur Hindu dan Islam. Tradisi tidak menyembelih sapi pun masih dijaga oleh sebagian besar warga Kudus, terutama menjelang Iduladha, ketika kerbau menjadi hewan kurban pilihan utama.
Dan di atas semua warisan itu, ada sate kerbau yang terus dibakar, disajikan, dan dinikmati—hari demi hari. Sepiring sate sederhana yang membawa pesan bahwa toleransi, bila dirawat dengan tulus, bisa bertahan jauh lebih lama dari satu generasi. Ia bisa bertahan berabad-abad, bahkan terasa lezat di lidah setiap orang yang mencicipinya.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Kudus, menyantap sate kerbau bukan sekadar wisata kuliner. Itu adalah cara paling nikmat untuk menyentuh sejarah.
0 Komentar