TpY5GUWiGfA8BUG0GfziTpz5
0
    0

      Jangan Gabungkan Telur dengan 5 Makanan Ini, Ini Alasannya



      MAKASSAR,  PACARITA - Telur sudah lama menjadi andalan meja makan masyarakat Indonesia. Murah, mudah didapat, dan kaya nutrisi—mulai dari protein berkualitas tinggi, vitamin D, hingga asam lemak omega-3 yang menyehatkan jantung. Tapi ada fakta yang sering luput dari perhatian: cara kita memadukan telur dengan makanan lain bisa menentukan apakah tubuh benar-benar mendapat manfaatnya, atau justru sebaliknya.

      Para ahli gizi mengingatkan bahwa kombinasi makanan yang salah dapat menghambat penyerapan nutrisi sekaligus memicu gangguan pencernaan. Telur, meski menyehatkan, ternyata tidak cocok berpasangan dengan beberapa jenis makanan yang justru sering dikonsumsi secara bersamaan dalam keseharian.

      Selama ini, banyak orang mengira selama makanan yang dikonsumsi sama-sama bergizi, hasilnya otomatis baik bagi tubuh. Padahal, tubuh manusia bekerja dengan prinsip yang jauh lebih rumit dari sekadar “bergizi plus bergizi sama dengan lebih bergizi.” Ada reaksi kimia, beban kerja sistem pencernaan, hingga persaingan antar nutrisi yang terjadi di dalam saluran cerna.

      Kuning telur, yang kerap menjadi kambing hitam karena kandungan kolesterolnya, sesungguhnya menyimpan segudang kebaikan. Di dalamnya terdapat lutein dan zeaxanthin—dua antioksidan yang berperan penting menjaga kesehatan mata—serta lemak baik yang membantu tubuh menyerap vitamin larut lemak. Selama dikonsumsi dalam jumlah wajar, kolesterol dalam telur justru membantu menyeimbangkan profil lemak dalam darah.

      Masalah bukan terletak pada telur itu sendiri, melainkan pada apa yang menemaninya di piring atau di meja makan.

      Mengacu pada laporan Times of India, berikut lima jenis makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan telur jika Anda ingin pencernaan tetap sehat dan manfaat gizinya optimal.

      Susu kedelai adalah salah satu yang pertama masuk daftar. Minuman nabati ini memang dikenal sebagai sumber protein yang baik, terutama bagi mereka yang menghindari produk susu hewani. Namun justru kandungan protein yang tinggi itulah yang menjadi masalah ketika dikombinasikan dengan telur.

      Sistem pencernaan manusia memiliki kapasitas kerja yang terbatas dalam satu waktu. Ketika seseorang mengonsumsi dua sumber protein tinggi sekaligus—telur dan susu kedelai—sistem pencernaan dipaksa bekerja jauh lebih keras dari biasanya. Efisiensi penyerapan protein pun menurun, artinya tubuh tidak benar-benar mendapat manfaat penuh dari keduanya meski sudah dikonsumsi dalam jumlah yang cukup.

      Solusinya sederhana: pisahkan konsumsi telur dan susu kedelai dengan jarak beberapa jam di hari yang sama. Dengan begitu, masing-masing dapat dicerna dan diserap secara optimal.

      Kebiasaan minum teh sambil makan telur di pagi hari mungkin terasa menyenangkan, bahkan terkesan sehat. Sayangnya, riset yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition mengungkap fakta yang mengejutkan: kombinasi ini dapat menurunkan penyerapan protein dari telur hingga 17 persen.

      Culprit-nya adalah polifenol, senyawa alami yang terkandung dalam teh. Polifenol memiliki kemampuan mengikat protein dan menghambat proses penyerapannya dalam tubuh. Selain itu, perpaduan teh dan telur juga dilaporkan memicu rasa kembung, begah, bahkan sembelit pada sebagian orang.

      Bagi pecinta teh, bukan berarti harus memilih antara telur atau teh untuk sarapan. Kuncinya adalah memberi jeda. Tunggu sekitar 30 hingga 60 menit setelah mengonsumsi telur sebelum menyeruput teh. Waktu jeda ini memberi kesempatan tubuh mencerna protein dari telur terlebih dahulu sebelum polifenol dari teh turut campur.

      Gula adalah pelanggar berikutnya yang mungkin tidak pernah terlintas dalam pikiran kebanyakan orang. Kue-kue manis, minuman bergula, atau bahkan madu yang ditambahkan ke dalam menu sarapan bersama telur dadar—kombinasi ini ternyata kurang menguntungkan bagi tubuh.

      Gula dicerna dengan sangat cepat oleh tubuh. Ketika bertemu dengan asam amino dari telur dalam sistem pencernaan, terjadi reaksi kimia yang tidak diinginkan. Hasilnya adalah lonjakan kadar gula darah yang tiba-tiba, yang dalam jangka panjang bisa memicu resistensi insulin. Sebagian orang juga mengalami gangguan pencernaan akut dari kombinasi ini.

      Lebih jauh lagi, kebiasaan memadukan telur dengan makanan manis dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus—ekosistem bakteri yang berperan krusial dalam imunitas dan metabolisme tubuh secara keseluruhan. Ganti pendamping manis dengan pilihan yang lebih ramah pencernaan: sayuran tumis, roti gandum, atau alpukat yang kaya lemak sehat.

      Pisang adalah buah yang hampir selalu ada di dapur rumah tangga Indonesia. Manis, mengenyangkan, dan praktis. Namun memakan pisang bersamaan dengan telur—baik sebagai bagian dari sarapan maupun menu olahraga pagi—bukanlah kombinasi yang ideal.

      Keduanya adalah makanan padat yang membutuhkan waktu dan energi pencernaan cukup besar. Ketika dikonsumsi bersamaan, beban kerja lambung dan usus meningkat signifikan. Akibatnya, seseorang bisa merasa perut penuh, pencernaan terasa berat dan lambat, serta muncul rasa tidak nyaman yang mengganggu aktivitas.

      Lebih baik jadwalkan keduanya secara terpisah. Telur bisa menjadi menu utama sarapan, sementara pisang lebih tepat dinikmati sebagai camilan di antara waktu makan—misalnya sekitar pukul 10 pagi atau sore hari. Perbanyak juga asupan air putih dan makanan berserat untuk membantu saluran cerna tetap aktif.

      Daging adalah pasangan kelima yang perlu diwaspadai. Di banyak meja makan, telur dan daging sering tampil berdampingan—telur ceplok dengan sosis, omelet isi daging, atau nasi goreng berisi keduanya sekaligus. Tampilannya menggoda, tapi dampaknya bagi pencernaan perlu dipertimbangkan ulang.

      Telur dan daging sama-sama kaya protein dan lemak hewani. Mengonsumsi dua sumber protein hewani dalam porsi besar sekaligus memberikan tekanan berlebih pada sistem pencernaan. Efek yang paling sering dirasakan adalah rasa berat di perut setelah makan, kantuk yang mendera, serta penurunan laju metabolisme untuk sementara waktu.

      Dampak ini terutama lebih terasa jika daging yang dikonsumsi adalah daging merah atau daging olahan seperti sosis dan kornet yang kandungan lemak jenuhnya tinggi. Pilihan lebih bijak adalah memadukan telur dengan sayuran segar, roti gandum, atau buah-buahan agar sistem pencernaan tetap bekerja ringan dan energi tersedia secara stabil sepanjang hari.

      Yang penting dipahami dari seluruh gambaran ini adalah bahwa telur tetaplah salah satu makanan paling bergizi yang bisa dikonsumsi setiap hari. Tidak ada alasan untuk menjauhinya. Yang perlu dilakukan hanyalah lebih cermat dalam memilih pendampingnya di meja makan.

      Mengatur waktu konsumsi dan memperhatikan kombinasi makanan adalah investasi kecil yang dampaknya besar bagi kesehatan pencernaan dan penyerapan nutrisi dalam jangka panjang. Bukan tentang pantangan yang rumit, melainkan tentang kebiasaan makan yang lebih cerdas dan terencana.

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post
      Ads
      Ads
      Ads

      Info

      Info
      • Kompleks Gladiol, Jl. Pengayoman Kec. Panakkukang, Kota Makassar
      • +0123456789
      • info@pacarita.com