MAKASSAR, PACARITA - Sebuah botol teh berdiri di rak kulkas warung. Dingin, manis, wangi melati. Di balik benda sederhana itu tersimpan perjalanan panjang seorang anak dari Slawi yang pernah berbaju karung goni, kehilangan pabrik dalam kebakaran, dan berjuang keras meyakinkan warga Jakarta bahwa teh bisa diminum langsung dari botol.
Namanya Soegiharto Sosrodjojo. Lahir November 1929 sebagai anak keenam dari sepuluh bersaudara di Slawi, kota teh di Jawa Tengah. Keluarganya sederhana, bahkan termasuk kurang mampu. Modal berdagang pun nyaris tidak ada, sampai-sampai daun teh dibeli sejumput demi sejumput dari petani. Orang Slawi menyebutnya nempeo, membeli sedikit karena uang untuk membeli banyak belum tersedia.
Dari situasi itu, Soegiharto mengangkat satu prinsip yang ia pegang seumur hidup, kalau belum punya modal, beli sedikit dulu, tapi tetap beli.
Ayahnya, Sosrodjojo atau Soseng Kiam dalam nama Tionghoa, sudah lama memendam mimpi membuat teh wangi sendiri. Teh hijau yang diharumkan bunga melati, dibuat dengan tangan sendiri. Rencana itu mulai disusun awal 1940, ketika Soegiharto baru berusia sepuluh tahun. Tapi sebelum sempat dimulai, mimpi itu terpaksa ditunda.
Tahun 1942, tentara Jepang masuk ke Tegal. Yang terjadi sesudahnya bukan sekadar pendudukan, melainkan bertahun-tahun penderitaan. Kain habis, orang-orang berpakaian karung goni yang kasar dan gatal. Makanan dirampas, petani dipaksa menanam tanaman untuk keperluan militer, bukan pangan. Warga makan bonggol pisang, umbi-umbian, bahkan bekicot. Ribuan orang dari kabupaten itu dijadikan romusha, banyak yang tidak pernah kembali.
Tiga setengah tahun itu, kata Soegiharto, adalah masa paling berat bagi keluarganya.
Lalu tibalah 17 Agustus 1945. Indonesia merdeka. Napas kembali bisa dihirup, dan mimpi lama kembali bisa dipelihara.
Tidak lama sesudah kemerdekaan, sang ayah menyerahkan seluruh rencana teh wangi itu kepada Soegiharto yang kala itu baru berusia sekitar enam belas tahun. Di tangannya ada modal kecil dan rencana yang sudah lima tahun menunggu. Masalahnya, ia tidak tahu cara membuat teh wangi.
Ia tidak menyerah dengan ketidaktahuannya. Ayahnya mengajarinya sabar langkah demi langkah, dan ia juga mencari seorang ahli yang benar-benar menguasai cara memasak teh. Dari keduanya ia belajar dan menggenggam satu pelajaran, kalau tidak tahu, cari orang yang tahu.
Di belakang rumah ayahnya, ia membangun dapur dengan satu tungku. Seminggu sekali ia membeli satu kuintal daun teh dari seorang haji di Moga, Pemalang, dan bunga melati dari Pekalongan. Daun disangrai, lalu semalaman dibiarkan bersama melati. Sepanjang malam dapur kecil itu harum. Paginya daun dikeringkan di cubung, keranjang pengering di atas api, lalu dibungkus kertas dan kaleng.
Teh itu ia beri nama Teh Cap Botol. Alasannya sederhana, di rumah mana pun pasti ada botol. Padahal botolnya sendiri belum ada.
Setiap hari ia berkeliling naik sepeda dari Tegal ke kota-kota sekitarnya, kadang sampai 50 kilometer, dengan teh di boncengan. Jalanan tidak selalu aman karena Belanda datang lagi dan perang pecah kembali. Daun teh pesanannya datang dengan kereta yang terus berganti jalur untuk menghindari serangan. Ia tidak pernah tahu kapan kiriman itu tiba. Tapi orang terus mencari tehnya.
Tahun 1950 permintaan sudah begitu besar sehingga ia mempekerjakan seorang lagi untuk membantu mengantar. Produksi mencapai 50 kilogram sehari dari dapur yang awalnya hanya punya satu tungku. Sepeda tidak lagi cukup, berganti dokar, lalu dokar berganti mobil.
Menjelang akhir 1950-an, cubung mereka sudah berjumlah 35 buah. Tahun 1953 berdiri pabrik pertama mereka. Pabrik itu terbakar di tahun yang sama.
Soegiharto berdiri di depan abu yang masih basah, mencium bau melati hangus di mana-mana. Kerja bertahun-tahun lenyap dalam satu hari. Tapi api mengambil dinding dan atap, bukan keahlian yang sudah dipelajari tangannya di dapur satu tungku itu. Ia memulai lagi dari awal. Sejak itu berlaku satu aturan sederhana baginya, kalau terbakar, mulai lagi dari awal.
Tahun 1955 pabrik baru berdiri seluas 764 meter persegi dengan 50 tungku. Di tahun yang sama, setelah tak sengaja bertemu kawan ayahnya di sebuah pesta pernikahan, ia setuju membawa usaha ini ke Jakarta. Alasannya lugas, Jakarta ibu kota, ramai, kalau di sana laku maka akan laku di mana-mana.
Dalam lima bulan saja, pencari teh wangi di Jakarta bertambah banyak. Permintaan naik. Saudara-saudaranya ikut pindah ke Jakarta, termasuk adiknya Soedjipto. Mereka berempat memegang usaha ini bersama selama sekitar 25 tahun.
Tapi masa paling berat belum juga lewat.
Tahun 1965, nama Teh Cap Botol masih asing bagi kebanyakan warga Jakarta. Mereka mencoba strategi Cici Rasa, berkeliling pasar dengan mobil berpengeras suara, mengajak orang mencicipi teh yang diseduh di tempat. Masalahnya, teh itu terlalu panas dan perlu waktu lama untuk menyiapkannya. Warga Jakarta tidak mau berdiri lama di pasar menunggu air mendidih.
Mereka mengubah cara. Teh diseduh lebih dulu di kantor, lalu dibawa ke pasar dengan panci besar di atas mobil bak terbuka. Masalah baru muncul, jalan Jakarta saat itu rusak parah. Setiap kali roda menghantam lubang, tutup panci berdenting dan teh muncrat keluar. Tiba di pasar, lantai bak sudah basah dan panci tinggal sedikit isinya. Sebagian besar teh habis di jalan, bukan di tangan pembeli.
Semua ini terjadi saat kondisi ekonomi nasional sedang parah. Tahun 1966 harga naik hampir 600 persen. Setiap tetes teh yang tumpah berarti uang yang tidak akan kembali.
Lalu hampir tanpa sengaja, mereka menemukan jalan keluar.
Teh yang sudah diseduh dituang ke dalam botol bekas kecap dan botol bekas limun yang sudah dicuci bersih. Cara ketiga ini berhasil. Teh sudah siap, botolnya tertutup, tidak tumpah, dan orang tinggal ambil lalu minum tanpa perlu menunggu. Botol-botol itu langsung habis diambil pembeli.
Baru di sini Soegiharto benar-benar mengerti. Orang menolak tehnya bukan karena rasa, melainkan karena mereka tidak mau menunggu dan tidak mau minum teh panas sambil berdiri di tengah pasar. Jadi tehnya yang harus menunggu mereka, di dalam botol.
Tahun 1969 mereka memutuskan menjual teh siap minum dalam botol dengan nama keluarga sendiri. Nama itu dirangkai dari dua nama lama, Teh Cap Botol dan Sosrodjojo. Jadilah Teh Botol Sosro.
Tapi perjalanan belum selesai. Botol pertama mereka memakai botol standar yang sudah ada, dan teh di dalamnya basi. Seorang yang di keluarga mereka disebut malaikat memberitahu rahasia, botolnya harus diubah lalu dipanaskan pada suhu tertentu. Mereka melakukannya dan teh tidak basi lagi. Nama keluarga mereka selamat.
Tahun 1970 Teh Botol Sosro mulai diproduksi dalam jumlah besar. Belum pernah ada teh dalam botol kaca di Indonesia sebelumnya. Teh manis diminum dingin dengan sedikit wangi melati, dalam botol yang bukan sekali pakai, dikembalikan ke warung dan diisi ulang.
Tahun 1974 mereka mendaftarkan perusahaan baru bernama Sinar Sosro dan membuka pabrik teh botol pertama di Bekasi. Botol mereka mendapat bentuk yang masih dipakai hingga hari ini.
Selama hampir dua dekade, tidak ada pemain besar yang melirik pasar teh botol. Botol mereka masuk ke hampir setiap warung di Indonesia. Kalimat “Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro” menjadi bagian dari keseharian. Teh mereka menjadi semacam penanda waktu berbuka puasa di bulan Ramadan, sampai banyak orang mengira kalimat iklan mereka adalah hadis.
Tahun 2005, menurut para pengamat ritel, Teh Botol Sosro masih menguasai sekitar 70 persen pasar minuman ringan tanpa soda di Indonesia. Seorang perempuan muda Malaysia menulis di internet, dan koranpun mengutipnya, bahwa Teh Botol bagi orang Indonesia setara dengan Coca-Cola bagi orang Amerika.
Tahun 2009 majalah Forbes menempatkan Soegiharto di posisi kesepuluh orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 1,2 miliar dolar. Ia yang dulu takut tenggelam karena utang 72 juta rupiah. Dari usahanya kala itu, lebih dari 1,5 juta orang menggantungkan hidup, kebanyakan petani teh dan pedagang.
Tapi angin berubah. Tahun 1995 Pepsi masuk dengan Teqita berisi 300 mililiter, sementara botol Sosro hanya 220. Coca-Cola menyusul, kemudian bersama Nestle mencoba lagi. Lalu muncul botol plastik, lebih ringan dan tidak perlu dikembalikan ke warung. Merek-merek baru bermunculan, dan yang paling keras suaranya adalah Teh Pucuk Harum.
Tahun 2016 saja Teh Pucuk menghabiskan hampir 400 miliar rupiah untuk iklan, sementara belanja iklan Sosro sangat rendah. Seorang pengamat pasar menyebut mereka terlena karena semuanya sudah berjalan sendiri. Pangsa pasar turun dari 70 persen pada 2013 menjadi sekitar separuhnya pada 2018. Di survei merek pada 2020, angka Teh Pucuk sudah dua kali lipat angka mereka.
Jawaban datang terlambat. Tahun 2024 Sosro mengeluarkan teh Poci bubuk yang bisa dilarutkan di air dingin dan membuka kafe teh bernama Kancha di beberapa mal Jakarta.
Tanggal 24 Januari 2025, pagi-pagi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta, dalam usia 95 tahun, Soegiharto Sosrodjojo menutup mata untuk terakhir kalinya. Di rumah sakit yang sama tempat adiknya Soedjipto pergi 15 tahun sebelumnya.
Ribuan pekerja pabrik datang melepasnya, termasuk Sumiati, perempuan 53 tahun yang sudah 30 tahun bekerja di pabrik Slawi. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata, Soegiharto tidak terlihat seperti orang kaya raya, ia selalu memberi semangat kepada para pekerja.
Rumah Soegiharto di samping pabrik di Slawi kini akan menjadi bagian dari sebuah museum hidup tentang teh. Di sana dipajang cubung, keranjang pengering yang dulu ia pakai untuk mengeringkan satu kuintal daun seminggu. Sekarang pabrik yang sama bisa mengolah 40 hingga 80 ton teh sehari.
Dari satu tungku di belakang rumah ayahnya di Slawi, hingga 11 pabrik dan sekitar 8.000 pekerja. Dari bungkus kertas bertuliskan nama botol yang belum ada, hingga botol kaca dingin di kulkas warung yang tersebar ke seluruh penjuru negeri.
Ia meninggalkan satu kalimat pegangan, niat baik, hasil baik.


0 Komentar