TpY5GUWiGfA8BUG0GfziTpz5
0
    0
      Breaking News

      Bung Hatta Sekolahkan Anak di Sekolah Katolik, Ini Alasannya

      Alasan Bung Hatta Pilih Sekolah Katolik untuk Anak-Anaknya

      MAKASSAR, PACARITA - Seorang tokoh Muslim taat memilih sekolah Katolik untuk mendidik anak-anaknya. Bukan karena goyah iman, melainkan karena satu alasan yang jauh lebih dalam, yaitu akhlak dan disiplin.

      Itulah yang dilakukan Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia, yang dikenal luas sebagai Bung Hatta. Putri keduanya, Gemala Rabiah Hatta, menceritakan pengalamannya menempuh pendidikan di sekolah Katolik di Jakarta, mulai dari Perwari, Regina Pacis selama empat tahun, hingga Santa dari kelas lima sampai jenjang SMA.

      Pertanyaan pun kerap muncul di lingkungan sekitar keluarga Hatta kala itu. Mengapa anak Bung Hatta bersekolah di sekolah Katolik, padahal sekolah Islam juga ada? Gemala menjawab pertanyaan itu dengan lugas. Bukan soal agama, karena di rumah mereka tetap menerima pelajaran agama Islam dari guru privat yang datang dua kali seminggu. Mereka pun bisa membaca Al-Quran. Yang menjadi pertimbangan utama sang ayah adalah soal akhlak dan kedisiplinan.

      Di sekolah itu, murid dari berbagai latar belakang agama belajar bersama dalam satu atap, mulai dari yang beragama Islam, Katolik, Protestan, hingga Hindu. Semua berjalan tanpa gesekan berarti.

      Salah satu kisah yang paling dikenang Gemala terjadi ketika ia mendapat nilai 2,5 pada mata pelajaran koperasi. Nilai itu harus ditandatangani orang tua, dan Gemala pun mendatangi ayahnya dengan rasa takut. Bagaimana tidak, ayahnya sendiri adalah sosok yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

      Namun Bung Hatta tidak marah. Ia justru meminta Gemala mengambil buku pelajarannya, lalu memeriksa jawaban ujian bersama-sama. Hasilnya mengejutkan, ternyata buku teks itulah yang keliru, sementara jawaban Gemala justru benar.

      Kisah itu mencerminkan cara Bung Hatta mendidik anak, bukan dengan amarah, melainkan dengan ketelitian, ilmu, dan keadilan. Ia mendidik ketiga putrinya, Mutia, Gemala, dan Khalida, dengan kebiasaan hidup yang teratur, sopan santun, ketepatan waktu, serta tanggung jawab yang ditunjukkan langsung melalui teladan.

      Nilai serupa juga tercermin dari keluarga Bung Karno. Sukmawati Soekarnoputri pernah berkisah bahwa sang ayah bahkan pernah mempersilakan ajudannya yang beragama Katolik untuk memimpin doa makan menurut keyakinannya sendiri. Sebuah gestur kecil yang sarat makna.

      Dua keluarga pendiri bangsa itu mewariskan pesan yang sama, bahwa kualitas pendidikan tidak diukur dari label agama sebuah lembaga, melainkan dari bagaimana ia membentuk manusia yang berkarakter, berilmu, dan mampu menghormati sesama.

      The free app that makes your Internet safer.







      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post
      Ads
      Seedbacklink
      Ads