TpY5GUWiGfA8BUG0GfziTpz5
0
    0
      Breaking News

      Brand Kopi Lokal Makassar di Pusaran Kontroversi, Boikot Bukan Solusinya

      Brand Kopi Makassar Diboikot, Siapa Sebenarnya yang Paling Dirugikan,

      MAKASSAR, PACARITA - Satu pernyataan bisa membuat nama besar runtuh dalam hitungan jam. Itulah yang kini dialami salah satu brand kopi lokal asal Makassar, yang mendadak menjadi sasaran kritik keras warganet setelah sebuah statement pemiliknya beredar dan memantik gelombang penghakiman di media sosial.

      Kemarahan publik memang mudah dipahami. Ketika seseorang berbicara dan kata-katanya terasa tidak sejalan dengan nilai yang dipegang banyak orang, reaksi spontan biasanya muncul cepat, bahkan sebelum konteks sepenuhnya dipahami. Namun pertanyaannya, apakah kemarahan itu harus berujung pada seruan boikot terhadap usaha lokal yang justru menghidupi banyak orang muda Makassar,

      Di balik satu statement yang menuai kontroversi, ada puluhan bahkan mungkin ratusan karyawan yang setiap harinya berangkat kerja, mengantri pembayaran gaji, dan menggantungkan nafkah pada keberlangsungan usaha tersebut. Mereka bukan pemilik. Mereka bukan yang bicara. Tapi merekalah yang paling pertama merasakan dampaknya jika roda bisnis berhenti berputar.

      Brand kopi lokal ini bukan sekadar bisnis kedai minuman. Ia adalah bagian dari ekosistem ekonomi kreatif anak muda Makassar, sebuah kota yang terus bergeliat dengan semangat wirausaha dan gaya hidup urban. Hadirnya kopi kekinian dengan harga terjangkau membuka akses bagi kalangan muda berpenghasilan pas-pasan untuk menikmati pengalaman ngopi yang selama ini identik dengan kantong tebal.

      Memang, selera lidah tidak bisa dipaksakan. Ada yang cocok, ada yang tidak. Itu wajar. Tapi soal rasa yang berbeda di lidah tentu berbeda urusannya dengan soal nilai bisnis yang telah dibangun, lapangan kerja yang telah dibuka, dan kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi lokal.

      Kontroversi ini sejatinya adalah ujian bagi sang pemilik. Qodarullah, begitu masyarakat Makassar menyebutnya, yakni takdir yang datang sebagai pelajaran. Dalam situasi seperti ini, seorang pebisnis dituntut untuk lebih bijak, lebih wara dalam bertutur, karena niat baik sekalipun bisa melahirkan persepsi yang jauh berbeda ketika disampaikan tanpa kehati-hatian.

      Tapi ujian bagi pemilik bukan berarti hukuman bagi karyawannya. Ada perbedaan besar antara mengkritik seseorang atas sikapnya dan memutus nafkah orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan kontroversi itu. Ketika seruan boikot menyasar sebuah usaha lokal, yang pertama kali “pecah piringnya” bukan sang pemilik, melainkan para pekerja muda yang setiap hari berdiri di balik mesin kopi, melayani pelanggan dengan senyum.

      Kritik adalah hak. Opini adalah hak. Bahkan ketidaksepakatan terhadap pandangan seseorang adalah hak yang sah untuk disuarakan. Namun ada batas yang perlu dijaga antara menyuarakan pendapat dan merusak mata pencaharian orang lain yang tidak bersalah.

      Makassar punya banyak alasan untuk bangga dengan pertumbuhan brand-brand lokal yang lahir dari rahim kota ini. Setiap gerai yang dibuka di kota-kota cabang bukan sekadar papan nama, ia adalah kesempatan kerja baru, penghasilan baru, dan semangat baru bagi generasi muda yang ingin mandiri tanpa harus merantau jauh.

      Jika ada yang memang layak untuk diboikot, arahkan energi itu ke produk atau korporasi besar yang memang terbukti merugikan masyarakat secara sistematis. Bukan pada usaha lokal yang tumbuh dengan modal keberanian anak daerah, yang justru sedang mencoba memberi kontribusi nyata bagi komunitasnya sendiri.

      Kepada sang pemilik, kontroversi ini bisa menjadi momentum untuk berbenah. Bukan soal mengubah keyakinan, tapi soal cara menyampaikan. Karena dalam dunia yang serba terhubung dan cepat bereaksi ini, setiap kata yang keluar ke publik punya konsekuensi yang jauh lebih besar dari sekadar sebuah kalimat.

      Kepada masyarakat yang merasa tidak sejalan, ada cara lebih elegan untuk menyampaikan ketidaksetujuan tanpa harus menghancurkan yang sudah dibangun. Berikan kritik, sampaikan saran, lakukan dialog. Tapi jangan biarkan sehelai tinta hitam menghapus seluruh kebaikan yang sudah mengalir luas.

      Ewako Makassar bukan sekadar semangat di mulut. Ia adalah semangat saling menjaga, saling menopang, dan saling menghargai, bahkan di tengah perbedaan.

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post
      Ads
      Seedbacklink
      Ads

      Info

      Info
      • 59 Street, 06 Lane, Newyork
      • +0123456789
      • info@domainku.com