TpY5GUWiGfA8BUG0GfziTpz5
0
    0
      Breaking News

      Zaskia Adya Mecca Ungkap Kisah Haru Relawan Karhutla Kalimantan

      Zaskia Adya Mecca Menangis di Kalimantan, Saksikan Relawan Patungan Rp10 Ribu demi Padamkan Api

      PALANGKARAYA, PACARITA - Empat hari bukan waktu yang lama. Tapi bagi Zaskia Adya Mecca, waktu itu cukup untuk merobohkan tembok yang selama ini memisahkan dirinya dari kenyataan pahit yang dialami jutaan warga Kalimantan setiap musim kemarau tiba.

      Aktris yang akrab disapa Kia ini turun langsung ke lokasi kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Bukan sekadar berkunjung atau berfoto, ia benar-benar terlibat bersama para relawan yang sudah berbulan-bulan berjibaku melawan kepungan asap dan kobaran api.

      Sejak hari pertama menjejakkan kaki di Kalimantan, air mata sudah tak bisa ia tahan. Cerita-cerita langsung dari warga lokal yang ia dengar begitu menghantam perasaannya. Bukan cerita yang dibumbui dramatisasi, melainkan fakta keras kehidupan sehari-hari yang sudah menjadi rutinitas menyakitkan bagi mereka.

      Yang membuat Zaskia paling tersentuh bukan besarnya bencana, tapi besarnya hati orang-orang yang menghadapinya. Di satu titik kebakaran yang tidak jauh dari lokasi pendaratannya, ia menyaksikan sendiri bagaimana warga sekitar bergotong royong menjadi relawan mandiri, tanpa seragam resmi, tanpa upah, tanpa jaminan keselamatan yang layak.

      Para relawan itu bukan pegawai dinas pemadam kebakaran. Mereka adalah tetangga, petani, pedagang kecil, yang bergerak sendiri karena api sudah mulai merayap mendekati permukiman tempat tinggal mereka. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang membayar, tapi mereka tetap datang setiap hari.

      Yang lebih menggetarkan, demi menghidupkan mesin pompa air yang digunakan untuk memadamkan api, para relawan ini patungan dari kantong masing-masing. Nominalnya bukan ratusan ribu, bukan jutaan. Cukup Rp10 ribu, kadang Rp15 ribu, kadang Rp20 ribu per orang, dikumpulkan setiap hari untuk membeli bahan bakar.

      “Jadi di sini ada masyarakat yang sebagai relawan mandiri, mereka ikut madamin setiap hari. Dan tahu nggak, buat beli bensin, buat ngidupin mesin ya, mereka itu patungan dari uang mereka masing-masing, Rp10.000, kadang Rp15.000, Rp20.000,” tutur Zaskia lewat akun Instagramnya.

      Angka itu mungkin terdengar kecil. Tapi bila dilihat dari kondisi ekonomi para relawan yang juga hidup dalam keterbatasan, angka itu adalah pengorbanan yang tidak kecil. Mereka bukan orang-orang yang berkelebihan. Mereka menyisihkan uang dari rezeki yang sudah sempit, demi memastikan mesin pompa tetap menyala dan api tidak semakin meluas.

      Ibu lima anak ini tak bisa membayangkan beban yang harus ditanggung setiap hari oleh orang-orang seperti mereka. Sementara sebagian besar masyarakat Indonesia di luar Kalimantan menjalani hari biasa, di sini ada sekelompok manusia yang setiap paginya harus bersiap menghadapi asap tebal dan lidah api yang tidak pernah benar-benar padam.

      Selain soal dana yang serba terbatas, Zaskia juga memperlihatkan kondisi perlengkapan yang digunakan para relawan. Mereka memadamkan api dengan alat pelindung diri seadanya, jauh dari standar keamanan yang semestinya dimiliki oleh siapa pun yang bekerja di dekat sumber api sebesar itu.

      “Jadi yang bikin terharu, mereka relawan mandiri, mereka nggak digaji. Bahkan mereka untuk memadamkan, untuk mereka butuh bahan bakar, mereka patungan, dan tidak dalam kondisi berlebih gitu, jadi dalam kondisi yang terbatas juga,” ungkap Zaskia.

      Kondisi di titik kebakaran yang ia kunjungi sudah cukup berat. Tapi Zaskia tahu, itu bukan yang terparah. Di area lain di Palangka Raya dan sekitarnya, titik api jauh lebih banyak dan situasinya jauh lebih parah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana para relawan di sana bertahan, bila di satu titik saja kondisinya sudah seperti ini.

      Selama empat hari itu, Zaskia tidak pernah berhenti menangis. Bukan karena lemah, tapi karena yang ia saksikan terlalu kuat untuk ditahan dengan kepala dingin. Ada semacam rasa bersalah yang menyelinap ketika melihat orang-orang ini berjuang seorang diri, sementara perhatian nasional terhadap bencana kebakaran lahan gambut ini kerap kali masih sangat minim.

      Lewat unggahan-unggahannya di Instagram, Zaskia tidak hanya berbagi cerita. Ia secara terang-terangan menyuarakan harapan agar para relawan mandiri ini mendapatkan perhatian lebih, dukungan perlengkapan yang layak, dan diakui sebagai bagian penting dari garis terdepan penanggulangan bencana kebakaran hutan di Indonesia.

      Kehadiran Zaskia di Kalimantan bukan sekadar aksi kepedulian selebriti yang selesai begitu kamera dimatikan. Ia datang, ia melihat, ia merasakan, dan ia pulang dengan cerita yang ia pikul sendiri, berharap bisa membuat lebih banyak orang menoleh ke arah yang selama ini luput dari perhatian.

      Di balik asap yang menghitam dan api yang tak kunjung padam, ada manusia-manusia luar biasa yang bertahan dengan cara paling sederhana, iuran Rp10 ribu demi menyalakan mesin, demi menyelamatkan kampung halaman, demi satu hal yang tidak bisa dibeli dengan nominal sebesar apa pun, yaitu rumah.

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post
      Ads
      Seedbacklink
      Ads

      Info

      Info
      • 59 Street, 06 Lane, Newyork
      • +0123456789
      • info@domainku.com