MAKASSAR, PACARITA - Makassar bergerak cepat. Di kawasan pesisir utara kota, tepatnya di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, sebuah proyek ambisius tengah menyeruak dari hamparan lahan bekas tambak dan rawa pantai. Stadion Untia, fasilitas olahraga terbaru Kota Makassar, resmi memasuki tahap pembangunan pada akhir Oktober 2026.
Desain Stadion Untia
Rekaman udara yang diambil pada 31 Oktober 2026 menangkap kesibukan nyata di lokasi proyek. Deretan truk pengangkut tanah, alat pemadat, dan ekskavator bergerak tak henti di atas lahan yang perlahan berubah wujud. Ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, ini adalah tonggak baru ambisi olahraga Sulawesi Selatan.
Tantangan terbesar di awal pengerjaan adalah kondisi lahan itu sendiri. Kawasan Untia dikenal sebagai wilayah pesisir yang dulunya dikuasai tambak dan rawa, sehingga tahap persiapan lahan menjadi pekerjaan paling krusial sebelum konstruksi utama dapat dimulai. Lahan diuruk dengan pasir dan tanah padat, lalu dipadatkan secara bertahap menggunakan alat berat untuk memastikan fondasi bangunan kelak dapat berdiri kokoh di atas permukaan yang stabil.
Kompleks kantor lapangan kontraktor KET Berata Putih tampak berdiri rapi di sisi jalan utama, berfungsi sebagai pusat kendali teknis seluruh operasional proyek. Kehadiran infrastruktur pendukung ini menjadi sinyal bahwa pengerjaan tidak dilakukan setengah-setengah. Mobilisasi peralatan dan personel yang masif menunjukkan komitmen nyata untuk mempercepat realisasi fisik di lapangan.
Dengan anggaran yang diperkirakan mencapai sekitar Rp334 miliar, Stadion Untia dirancang bukan sekadar tempat bertanding. Stadion ini diproyeksikan menampung antara 15.000 hingga 17.000 penonton dengan konsep single seat, sebuah sistem tempat duduk tunggal yang memberikan kenyamanan lebih baik bagi setiap penonton. Yang membedakannya dari kebanyakan stadion lama, fasilitas ini dirancang murni untuk sepak bola, tanpa lintasan atletik yang biasanya memisahkan tribun dari lapangan.
Pilihan lokasi di kawasan Untia bukan tanpa perhitungan. Stadion ini dibangun berdekatan dengan jalan beton lebar di kawasan Politeknik Ilmu Kelautan, menjadikannya mudah diakses dari berbagai penjuru kota. Lebih dari itu, latar belakang pemandangan laut yang terbuka menjadikan Stadion Untia sebagai salah satu fasilitas olahraga dengan panorama paling eksotis di Indonesia Timur.
Keberadaan Stadion Untia melengkapi peta fasilitas olahraga Makassar yang juga sedang membangun Stadion Sudiang di sisi timur kota. Dua stadion besar yang dibangun hampir bersamaan ini mencerminkan visi jangka panjang Pemerintah Kota Makassar untuk memposisikan diri sebagai pusat olahraga dan wisata olahraga terkemuka di kawasan Indonesia bagian timur.
Jadwal pembangunan yang ditetapkan cukup ambisius. Setelah tahap penimbunan dan pemadatan lahan yang sedang berjalan saat ini, konstruksi fisik utama ditargetkan dimulai pada awal 2027. Seluruh proses pembangunan dijadwalkan rampung pada Desember 2027, memberi ruang sekitar satu tahun bagi para pekerja dan kontraktor untuk menyelesaikan semua tahapan secara menyeluruh.
Bagi warga Makassar, kehadiran stadion ini menyimpan harapan yang jauh lebih dalam dari sekadar bangunan olahraga. Selama bertahun-tahun, Makassar dikenal sebagai kota dengan animo sepak bola yang luar biasa, namun keterbatasan fasilitas kerap menjadi kendala. Stadion Untia hadir sebagai jawaban atas kerinduan itu, sebuah arena modern yang layak untuk menjadi kandang tim kebanggaan warga Sulawesi Selatan.
Kawasan pesisir utara Makassar pun perlahan berubah wajah. Lahan yang dulu sunyi kini dipenuhi denyut aktivitas pembangunan. Setiap ayunan alat berat, setiap lapisan tanah yang dipadatkan, adalah bagian dari ikhtiar panjang yang bermuara pada satu tujuan, menghadirkan stadion bertaraf tinggi yang bisa dibanggakan seluruh warga kota.
Proses pembangunan ini akan terus dipantau dari langit maupun dari darat. Rekaman drone dan laporan berkala dari lokasi proyek menjadi cara masyarakat ikut mengawal jalannya pembangunan secara transparan. Kepercayaan publik dibangun tidak hanya melalui anggaran dan janji, tetapi juga melalui kemajuan yang bisa dilihat dan dirasakan langsung.
Stadion Untia baru saja mengambil napas pertamanya. Masih panjang jalan yang harus ditempuh, tetapi langkah awal itu sudah terukir jelas di tanah Makassar, penuh harapan dan tekad yang tidak boleh berhenti di tengah jalan.

0 Komentar