
Andi Rusmiati Rustham saat Berkunjung ke Ketua DPD Partai Golkar Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin
SINJAI, PACARITA - Pergantian pucuk pimpinan Partai Golkar di Kabupaten Sinjai mulai ramai dibicarakan. Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Golkar Sinjai rencananya digelar tahun ini untuk memilih ketua periode 2026-2031, dan bursa nama sudah bergerak jauh sebelum palu sidang diketuk.
Di pusat pembicaraan itu ada dua perempuan kader Beringin, Andi Kartini Ottong yang kini menjabat ketua dan Andi Rusmiati Rustham yang namanya menguat sebagai calon pengganti. Keduanya sama-sama dikenal sebagai kader murni partai, tetapi arah angin di tingkat provinsi disebut tidak sepenuhnya berpihak pada petahana.
Andi Kartini Ottong dikabarkan masih ingin melanjutkan kepemimpinannya di Golkar Sinjai. Keinginan itu, menurut kabar yang beredar, akan menghadapi hambatan setelah Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dilantik sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan. Pelantikan itu mengubah peta kekuatan di internal partai, termasuk dalam menentukan siapa yang layak memimpin di daerah.
Informasi dari lingkaran internal menyebutkan IAS dan sejumlah senior Golkar menghendaki penyegaran di pucuk pimpinan Golkar Sinjai. Dasarnya adalah survei internal DPD Golkar Sulsel yang menyasar tokoh masyarakat dan sesepuh partai di Kabupaten Sinjai. Hasil survei itu disebut menjadi pijakan utama dorongan perubahan.
Dari situlah nama Andi Rusmiati Rustham, yang akrab disapa Andi Ceceng, mencuat. Berembus kabar bahwa IAS lebih condong pada figur ini untuk menggantikan Andi Kartini Ottong. Dukungan terbuka juga sudah datang dari DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kabupaten Sinjai.
Ketua DPD AMPI Sinjai, Andi Adnan Najamuddin, menyatakan secara terang-terangan bahwa organisasinya mendukung Andi Ceceng menjadi Ketua DPD Golkar Sinjai periode 2026-2031. Pernyataan itu menegaskan bahwa tarik-menarik dukungan sudah keluar dari ruang tertutup dan mulai tampil di hadapan publik.
Seorang sumber di internal Golkar Sinjai menggambarkan situasinya kepada wartawan pada Senin (26/10/2026). “Soal suksesi di Sinjai, sepertinya Pak IAS menginginkan figur baru yang lebih enerjik. Ini berdasarkan survei internal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Andi Ceceng dinilai berpotensi dan sudah mendapat restu IAS saat menemuinya.
Sumber yang sama mengungkapkan bahwa Andi Kartini Ottong dan Andi Rusmiati Rustham telah dipertemukan. Pertemuan itu difasilitasi fungsionaris Golkar Sulsel, Andi Iskandar Zulkarnain Latief atau Icul. Materi pembicaraannya, kata sang sumber, tentu menyangkut suksesi di tubuh Golkar Sinjai.
Pertemuan semacam itu lazim terjadi menjelang musda, ketika partai berupaya menjaga soliditas sebelum pemilihan berlangsung. Meski demikian, isi pembicaraan dan hasilnya belum diketahui secara pasti. Sejauh ini informasi tersebut berasal dari sumber internal yang belum dikonfirmasi secara resmi oleh para pihak.
Dari sisi rekam jejak, kedua tokoh bukan nama baru di panggung politik Sinjai. Andi Kartini Ottong pernah menjabat Sekretaris DPD II Partai Golkar Kabupaten Sinjai dan pernah duduk sebagai anggota DPRD Sinjai. Pengalaman struktural dan legislatif itu menjadi modal yang tidak kecil.
Andi Rusmiati Rustham pun datang dengan bekal organisasi yang berlapis. Ia kini Ketua Fraksi Golkar di DPRD Sinjai, sekaligus Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Kabupaten Sinjai dan Bendahara AMPI Kabupaten Sinjai. Jaringan di organisasi sayap partai itu bisa menjelaskan mengapa dukungan mengalir dari AMPI.
Persaingan ini berlangsung di tengah target besar yang dibebankan kepada partai. Pada Pemilu 2019, Golkar meraih empat kursi di DPRD Sinjai, dan jumlah itu bertahan pada Pemilu 2024. Artinya, dalam dua pemilu berturut-turut partai belum mampu menambah kekuatannya di parlemen daerah.
IAS dalam kunjungannya ke Sinjai belum lama ini mendorong peningkatan perolehan kursi Golkar di DPRD. Ia juga meminta kader lebih melek platform digital agar partai makin dikenal anak muda, terutama pemilih pemula. Pesan itu terbaca sebagai tolok ukur bagi siapa pun yang kelak memimpin Golkar Sinjai.
Dengan latar tersebut, wajar bila isu “figur yang lebih enerjik” ikut mengemuka dalam pembicaraan suksesi. Kepemimpinan baru dianggap perlu membawa pendekatan yang lebih adaptif terhadap perubahan perilaku pemilih. Namun, apakah penyegaran memang jawaban atas stagnasi kursi, masih menjadi perdebatan yang belum tentu disepakati semua pihak.
Hingga kini jadwal pasti musda belum terungkap dalam informasi yang beredar. Yang jelas, dinamika di tingkat provinsi, dukungan organisasi sayap, dan hasil survei internal sudah membentuk arus yang tak mudah diabaikan. Pada akhirnya, keputusan tetap ditentukan oleh mekanisme partai dan suara para pemilik hak pilih di forum musda.
Publik Sinjai kini menunggu apakah Andi Kartini Ottong mampu mempertahankan kursinya atau Andi Ceceng benar-benar melenggang sebagai nakhoda baru. Apa pun hasilnya, musda nanti akan menjadi ujian bagi soliditas Beringin di Bumi Panrita Kitta.

0 Komentar