Dokter spesialis gizi klinik lulusan Universitas Indonesia, Juwalita Surapsari, menegaskan bahwa diet sehat jauh lebih kompleks dari sekadar menghindari gorengan dan beralih ke makanan rebusan. Bagi dr. Juwalita yang berpraktik di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta, kunci diet yang benar bukan pada teknik memasak semata, melainkan pada kelengkapan komposisi nutrisi di setiap piring makan.
Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, ia menjelaskan bahwa sumber karbohidrat rebusan seperti kentang, ubi, singkong, dan jagung memang kaya serat dan energi. Namun bahan-bahan tersebut tidak mencukupi kebutuhan protein harian tubuh jika dikonsumsi tanpa pendamping yang tepat.
Protein menjadi elemen yang paling sering diabaikan dalam pola diet berbasis makanan rebusan. Tanpa asupan protein yang memadai, fungsi metabolisme tubuh akan terganggu, begitu pula pemeliharaan jaringan otot dan organ yang seharusnya berjalan optimal setiap saat.
Dr. Juwalita merekomendasikan agar setiap porsi makan rebusan tetap dilengkapi dengan sumber protein seperti telur rebus, edamame, atau tahu kukus. Pilihan-pilihan ini tetap sejalan dengan prinsip makan rendah lemak, namun tidak mengorbankan kebutuhan nutrisi esensial yang tubuh perlukan untuk berfungsi dengan baik.
Salah satu kekeliruan besar lain dalam dunia diet adalah memusuhi lemak secara total. Banyak orang yang menjalani program diet langsung memangkas semua sumber lemak dari menu hariannya, padahal pendekatan ekstrem seperti ini justru bisa merugikan kesehatan dalam jangka panjang.
Lemak tetap merupakan salah satu makronutrien yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi vital, mulai dari penyerapan vitamin larut lemak hingga produksi hormon. Tanpa asupan lemak sama sekali, tubuh akan kesulitan menyerap nutrisi penting tertentu meski makanan yang dikonsumsi tampak sehat.
Dr. Juwalita menegaskan bahwa penggunaan minyak dalam pengolahan makanan masih diperbolehkan, asalkan dalam batas yang wajar dan tidak berlebihan. Yang perlu dihindari adalah kebiasaan mengonsumsi makanan yang dimasak dengan teknik penggorengan dalam minyak banyak secara terus-menerus setiap hari.
Artinya, menu makan harian yang ideal tidak harus terasa hambar dan tanpa rasa sama sekali. Sebuah sajian yang diolah dengan sedikit minyak berkualitas baik, dilengkapi sayuran dan sumber protein, jauh lebih bermanfaat dibandingkan sekadar sepiring besar rebusan tanpa variasi gizi yang seimbang.
Sementara itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi dr. Bobby Arfhan Anwar memberikan perspektif berbeda namun saling melengkapi. Menurutnya, kesadaran terhadap asupan nutrisi harus semakin meningkat seiring bertambahnya usia, terutama bagi mereka yang sudah memasuki dekade ketiga kehidupan.
Di usia 20-an, tubuh memiliki kapasitas metabolisme yang lebih tinggi dan kemampuan pemulihan yang lebih cepat sehingga efek buruk dari pola makan tidak sehat mungkin belum terasa signifikan. Namun memasuki usia 30-an, kondisi tersebut berubah dan tubuh mulai memerlukan perlakuan yang lebih cermat dan selektif.
Dr. Bobby menekankan tiga prinsip pola makan yang perlu diterapkan secara konsisten mulai dari usia 30 tahun, yakni rendah gula untuk mencegah lonjakan insulin dan risiko diabetes, rendah lemak jenuh untuk menjaga kadar kolesterol dan kesehatan pembuluh darah, serta rendah garam guna mencegah hipertensi atau tekanan darah tinggi yang kini menjangkit semakin banyak usia produktif.
Namun dr. Bobby juga mengingatkan bahwa kesehatan jantung tidak semata-mata ditentukan oleh isi piring makan. Ada faktor-faktor eksternal dan gaya hidup yang sama pentingnya dalam menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh dan jangka panjang.
Aktivitas fisik yang teratur, kualitas tidur yang cukup, pengelolaan stres yang baik, serta menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol adalah pilar-pilar pendukung yang tidak bisa dipisahkan dari program diet mana pun. Tanpa keseimbangan faktor-faktor ini, pola makan sehat saja tidak akan memberikan hasil yang optimal.
Obesitas menjadi salah satu alarm paling nyata yang menandakan ketidakseimbangan gaya hidup seseorang. Kondisi kelebihan berat badan ini tidak hanya soal penampilan, melainkan menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit kronis yang berbahaya, terutama gangguan pada sistem kardiovaskular.
Kelebihan lemak tubuh yang menumpuk akibat pola makan tidak seimbang dan gaya hidup minim gerak dapat memicu gangguan distribusi lemak di dalam pembuluh darah. Kondisi ini secara langsung meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, hingga komplikasi serius lainnya yang bisa mengancam kualitas dan harapan hidup.
Para ahli medis ini pada akhirnya sepakat pada satu pesan yang sama, yakni diet sehat bukan tentang membatasi diri secara ekstrem atau mengonsumsi satu jenis makanan saja. Diet yang benar adalah yang memastikan tubuh mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan dalam proporsi yang tepat, diolah dengan cara yang sehat, dan dijalankan sebagai bagian dari gaya hidup aktif dan seimbang.
Bagi siapa pun yang sedang menjalani atau berencana memulai program diet, konsultasi dengan dokter spesialis gizi tetap menjadi langkah paling bijak. Setiap tubuh memiliki kebutuhan yang berbeda, dan program diet yang paling efektif adalah yang dirancang sesuai kondisi kesehatan, aktivitas, dan tujuan spesifik masing-masing individu.


0 Komentar