MAKASSAR, PACARITA - Sepuluh bulan dibalik jeruji besi tidak membuat Massa Ghazal menyerah. Mahasiswi asal Nablus, Palestina, itu justru keluar dari Penjara Damon dengan membawa sesuatu yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun, hafalan lengkap 30 juz Al-Qur’an.
Massa Ghazal
Massa ditangkap oleh pasukan Israel pada 28 April 2025. Tidak ada keterangan resmi yang dirilis mengenai alasan penangkapannya, sebagaimana yang umum terjadi dalam praktik penahanan administratif yang kerap diterapkan otoritas Israel terhadap warga Palestina. Ia langsung dibawa ke Penjara Damon, salah satu fasilitas penahanan yang digunakan Israel untuk menampung tahanan perempuan asal wilayah Palestina.
Di dalam sel sempit itu, Massa memilih sebuah jalan yang tidak biasa. Di tengah keterbatasan ruang gerak, jauh dari keluarga, dan dalam kondisi penuh tekanan psikologis, ia memutuskan untuk menghafal Al-Qur’an secara menyeluruh. Bukan sekadar membaca, tetapi menghafalkan kata demi kata, ayat demi ayat, dari surah pertama hingga terakhir.
Proses hafalan itu bukan perkara mudah. Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surah, dan lebih dari 6.000 ayat. Dalam kondisi normal sekalipun, menuntaskan hafalan seluruh isinya membutuhkan ketekunan luar biasa dan waktu yang tidak sebentar. Namun Massa berhasil menyelesaikannya dalam kurun waktu sekitar sepuluh bulan, sebuah pencapaian yang oleh banyak kalangan disebut sebagai mukjizat kecil di tengah penjara.
Kisah ini bukan tentang perlawanan bersenjata, bukan pula tentang demonstrasi atau aksi politik. Ini adalah perlawanan dalam diam, perlawanan yang dilakukan melalui doa, hafalan, dan ketenangan jiwa yang tidak bisa direnggut oleh tembok penjara mana pun.
Massa Ghazal akhirnya dibebaskan pada 26 Februari 2026. Kepulangannya ke Nablus disambut dengan haru. Ia tidak pulang dengan tangan kosong. Ia membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga dari kebebasan fisik semata, seluruh kalam Tuhan tersimpan rapi dalam ingatannya.
Nablus sendiri adalah kota yang tidak asing dengan duka dan perlawanan. Kota yang terletak di Tepi Barat Palestina itu telah menjadi salah satu titik panas konflik selama beberapa tahun terakhir. Operasi militer Israel yang berulang, penggerebekan di tengah malam, serta penangkapan warga, termasuk mahasiswa dan pelajar, menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi penduduknya.
Dalam konteks itulah kisah Massa menjadi begitu kuat maknanya. Ia bukan hanya seorang perempuan muda yang hafal Al-Qur’an. Ia adalah simbol ketangguhan jiwa, representasi dari ratusan bahkan ribuan perempuan Palestina yang menghadapi situasi serupa dengan cara mereka sendiri, dengan diam yang bermartabat.
Media Palestina meliput kisahnya secara luas sejak kabar pembebasannya tersebar. Berbagai platform digital turut menyebarkan ceritanya, dan dalam waktu singkat nama Massa Ghazal dikenal luas di berbagai belahan dunia, terutama di kalangan komunitas Muslim yang melihatnya sebagai teladan nyata tentang keimanan yang tidak goyah.
Di kalangan pesantren dan komunitas tahfiz di Indonesia, kisah ini beredar cepat. Para pengajar dan santri menjadikan perjalanan Massa sebagai bahan refleksi bahwa menghafal Al-Qur’an bukan semata soal kemampuan akademik atau kondisi yang sempurna. Kadang, justru dalam tekanan terberatpun seseorang bisa menemukan fokus yang paling murni.
Ada ironi yang menyentuh dalam kisah ini. Penjara yang dirancang untuk membatasi kebebasan, memutus komunikasi, dan mematahkan semangat justru menjadi tempat di mana seorang perempuan muda meraih pencapaian spiritual tertingginya. Seolah tembok-tembok beton itu tidak mampu membendung sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar tubuh manusia.
Para aktivis hak asasi manusia yang mendampingi kasus-kasus tahanan Palestina menyebut kondisi di Penjara Damon kerap tidak memenuhi standar internasional. Akses terhadap buku, alat tulis, bahkan komunikasi dengan keluarga sangat dibatasi. Dalam kondisi seperti itu, menghafal Al-Qur’an dari ingatan yang sudah tersimpan sebelumnya, atau dari mushaf yang berhasil masuk ke dalam sel, menjadi satu-satunya pelarian yang tersisa.
Massa tidak banyak bicara soal detail kondisi penahanannya, setidaknya dalam laporan-laporan awal yang beredar pasca pembebasannya. Namun ia menyebut bahwa hafalan itu menjadi sumber kekuatannya, sesuatu yang membuat ia tetap waras dan tetap teguh di hari-hari paling gelap sekalipun.
Kisahnya juga membuka kembali diskusi tentang nasib tahanan perempuan Palestina di fasilitas penahanan Israel. Menurut berbagai organisasi pemantau hak asasi manusia, jumlah perempuan Palestina yang ditahan mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak dari mereka adalah mahasiswi, ibu rumah tangga, dan perempuan muda yang ditangkap tanpa dakwaan yang jelas.
Di antara mereka, sebagian memilih bertahan dengan cara seperti yang dilakukan Massa, menghafal Al-Qur’an, berdzikir, atau menulis puisi dalam kepala karena alat tulis tidak selalu tersedia. Cara-cara ini bukan sekadar aktivitas pengisi waktu. Bagi mereka, ini adalah bentuk penegasan identitas bahwa mereka tetap ada, tetap bermartabat, dan tidak bisa direduksi menjadi sekadar nomor tahanan.
Pembebasan Massa pada akhir Februari 2026 terjadi dalam konteks yang lebih luas, yakni pertukaran tahanan antara pihak Israel dan Palestina yang berlangsung dalam beberapa gelombang. Ribuan warga Palestina yang sebelumnya ditahan dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan tersebut. Namun di antara semua nama yang keluar, nama Massa Ghazal menjadi yang paling banyak disebut karena pencapaiannya yang luar biasa itu.
Kini, di Nablus, Massa kembali menjalani kehidupannya. Ia kembali ke kampus, kembali ke keluarga, kembali ke rutinitas yang sempat terputus. Namun ia membawa sesuatu yang tidak akan pernah bisa diambil dari dirinya, sebuah hafalan yang hidup dalam dadanya, sebuah cerita yang kini menginspirasi jutaan orang.
Kisah Massa Ghazal bukan hanya tentang hafalan Al-Qur’an. Ini adalah kisah tentang apa yang bisa dilakukan manusia ketika semua kebebasan luarnya dirampas. Ini adalah kisah tentang ruang yang tidak bisa dipenjara, ruang dalam diri, di mana keyakinan, tekad, dan cinta kepada Tuhan tetap bisa tumbuh, bahkan di tempat yang paling gelap sekalipun.

0 Komentar