BALIKPAPAN, PACARITA - Sebuah video yang beredar di media sosial pada 20 Oktober 2026 langsung menyita perhatian jutaan orang. Puluhan hingga ratusan warga Kalimantan Timur terlihat berjalan menyusuri lahan terbuka yang dipenuhi batang kayu kering dan sisa-sisa kebakaran hutan, sambil menebarkan benih pohon ke tanah yang telah lama kehilangan pepohonannya.
Aksi gotong royong ini bukan sekadar kegiatan penghijauan biasa. Di balik langkah sederhana para warga itu tersimpan kekhawatiran besar, bahwa lahan bekas kebakaran yang mereka injak bisa saja berubah menjadi hamparan perkebunan kelapa sawit jika tidak segera diselamatkan.
Mereka tidak membawa alat berat. Tidak pula mengandalkan teknologi canggih. Yang mereka bawa hanyalah benih, tekad, dan harapan agar kawasan itu kembali ditumbuhi pepohonan alami seperti sediakala.
Di tengah maraknya kabar kerusakan hutan Indonesia, gerakan seperti ini terasa seperti angin segar. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan, keberadaan pohon bukan sekadar soal pemandangan hijau. Hutan menjaga ketersediaan air, melindungi tanah dari erosi, menyediakan habitat bagi satwa liar, dan mengatur kondisi iklim mikro di sekitar permukiman.
Ketika kebakaran meluluhlantakkan kawasan hutan, kerusakannya tidak berhenti saat api padam. Pohon-pohon besar yang tumbuh selama puluhan tahun lenyap dalam hitungan jam. Tanah kehilangan pelindung alaminya, satwa kehilangan rumah, dan siklus air yang selama ini terjaga mulai terganggu.
Pemulihan hutan, karenanya, bukan sekadar urusan menanam kembali. Ada hubungan rumit antara tanah, air, tumbuhan, dan berbagai makhluk hidup yang harus terbentuk ulang secara perlahan, sesuatu yang tidak bisa digantikan hanya dengan menghadirkan barisan tanaman baru dalam semalam.
Di sinilah letak keberanian dan kesadaran warga Kalimantan Timur itu. Mereka berusaha mempertahankan kesempatan agar kawasan yang rusak bisa kembali menjadi ekosistem yang hidup, bukan dialihfungsikan menjadi perkebunan monokultur yang secara fisik terlihat hijau, tetapi secara ekologi jauh berbeda.
Banyak orang mungkin bertanya, apa bedanya perkebunan sawit dengan hutan, toh keduanya sama-sama hijau? Pertanyaan ini penting dijawab dengan jernih.
Hutan tropis Kalimantan terdiri dari ratusan bahkan ribuan jenis pohon dengan berbagai ukuran, usia, dan karakteristik yang berbeda. Di antara pohon-pohon raksasa itu tumbuh semak, tanaman bawah, jamur, dan tumbuhan merambat yang semuanya saling menopang. Keanekaragaman ini menciptakan habitat bagi ribuan jenis satwa, mulai dari serangga terkecil hingga orangutan dan beruang madu.
Perkebunan sawit bekerja dengan logika yang berbeda. Satu jenis tanaman ditanam dalam jarak tertentu, dirawat untuk satu tujuan, yaitu produksi minyak. Meski perkebunan tetap bisa menjadi tempat hidup beberapa jenis satwa, kemampuannya jauh dari cukup untuk menggantikan kekayaan hayati hutan alami.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 2023 menunjukkan bahwa kawasan yang didominasi perkebunan sawit memiliki keanekaragaman spesies jauh lebih rendah dibandingkan hutan hujan tropis. Studi itu juga menyebut bahwa menghadirkan kelompok pepohonan yang lebih beragam di dalam kawasan perkebunan dapat membantu meningkatkan keragaman hayati, meski tentu tidak sepenuhnya menggantikan hutan asli.
Perbedaan antara keduanya juga terlihat pada kondisi tanah. Hutan alami memiliki beragam jenis akar yang tumbuh dengan kedalaman dan pola berbeda, didukung lapisan serasah daun dan bahan organik yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Sistem ini membantu mempertahankan struktur tanah, mendorong penyerapan air hujan, dan mencegah erosi.
Sawit memiliki akar serabut yang berfungsi menyerap air dan unsur hara, tetapi tidak mereplikasi fungsi gabungan perakaran hutan yang kompleks. Sebuah penelitian yang terbit di Frontiers in Plant Science pada 2020 menemukan bahwa tanah di lokasi perkebunan sawit yang diteliti lebih padat dan mengandung lebih sedikit air dibandingkan tanah di kawasan hutan hujan tropis.
Ini bukan berarti sawit adalah tanaman jahat yang harus dihindari. Komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang nyata bagi Indonesia. Jutaan petani, pekerja kebun, dan pelaku industri hilir bergantung padanya. Minyak sawit hadir dalam begitu banyak produk konsumsi sehari-hari, dari minyak goreng hingga sabun dan produk kecantikan.
Persoalannya bukan pada sawitnya, melainkan pada lokasi pengembangannya. Sawit yang tumbuh di lahan yang memang sudah diperuntukkan sebagai perkebunan tentu berbeda persoalannya dengan pembukaan kebun baru yang menggerus kawasan hutan alami. Satu pilihan menambah produksi, yang lain mengurangi fungsi ekologis yang tidak ternilai harganya.
Penelitian yang diterbitkan dalam Annual Review of Resource Economics pada 2021 menjelaskan bahwa perluasan perkebunan sawit yang menggantikan hutan tropis berdampak besar terhadap keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem, mencakup perubahan penyimpanan karbon, kondisi tanah, serta berbagai manfaat alami yang sebelumnya diberikan hutan.
Ada juga anggapan keliru yang kerap beredar, bahwa pohon sawit tidak banyak menghasilkan oksigen. Pernyataan itu tidak sepenuhnya tepat. Sawit tetap melakukan fotosintesis seperti tumbuhan hijau lainnya, menyerap karbon dioksida dan melepas oksigen. Namun, jumlah oksigen yang dihasilkan bukan satu-satunya ukuran kemanfaatan suatu kawasan. Hutan juga menyimpan karbon dalam biomassa dan tanah, mengatur siklus hidrologi, dan menjaga jutaan bentuk kehidupan yang saling bergantung.
Itulah mengapa ketika hutan diukur hanya dari tampilannya yang hijau, banyak fungsi pentingnya yang luput dari perhatian.
Kembali pada aksi warga Kalimantan Timur, semangat mereka jelas patut diapresiasi. Namun, menebarkan benih hanyalah langkah pertama dari proses pemulihan yang panjang dan penuh ketidakpastian. Tidak semua benih yang jatuh ke tanah akan tumbuh, apalagi jika kondisi tanah telah rusak akibat kebakaran intens.
Onrizal, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, menjelaskan bahwa pemulihan lahan gambut bekas kebakaran membutuhkan pendekatan khusus. Kondisi air di kawasan gambut yang mengering perlu dipulihkan lebih dahulu, misalnya dengan menutup saluran yang menyebabkan air mengalir keluar. Setelah itu, pemulihan vegetasi baru bisa dilakukan dengan jenis tanaman yang sesuai kondisi setempat.
Ini artinya, keberhasilan aksi warga akan sangat bergantung pada pendampingan yang tepat, baik dari ahli kehutanan, lembaga swadaya masyarakat, maupun dukungan pemerintah daerah. Benih yang tumbuh perlu dijaga agar tidak kembali rusak. Kawasan yang dipulihkan juga perlu perlindungan hukum agar tidak berubah fungsi di kemudian hari.
Perlu dicatat pula bahwa kegiatan penghijauan secara sukarela tidak otomatis mengubah status hukum sebuah kawasan. Jika lahan memiliki izin pemanfaatan tertentu, aksi tanam-menanam saja tidak serta-merta membatalkan izin tersebut. Kejelasan status lahan dan pengawasan pemerintah tetap menjadi elemen krusial yang tidak bisa diabaikan.
Hingga 22 Oktober 2026, informasi yang tersedia belum menjelaskan secara lengkap lokasi desa, jenis benih yang disebarkan, luas lahan yang dicakup, maupun status resmi kawasan tersebut. Detail-detail ini penting untuk menilai prospek keberhasilan pemulihan jangka panjang. Namun, dokumentasi video yang beredar sudah cukup memperlihatkan adanya kehendak kolektif masyarakat untuk berbuat sesuatu bagi alam mereka.
Ada pelajaran yang lebih dalam dari peristiwa ini. Masyarakat yang hidup di sekitar hutan sering kali memahami manfaat hutan secara lebih intuitif dibanding siapa pun. Mereka merasakan langsung ketika sumber air mengecil, ketika tanah longsor setelah hujan deras, ketika hasil hutan yang biasa mereka panen tidak lagi bisa ditemukan. Kepedulian mereka bukan berasal dari laporan ilmiah, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari.
Di sisi lain, berbagai persoalan lingkungan kerap baru mendapat perhatian luas setelah dampaknya terasa. Banjir membuat orang kembali membicarakan daerah resapan air. Kekeringan mengingatkan pentingnya sumber mata air. Kebakaran hutan memperlihatkan betapa besar kerugian yang ditanggung ketika ekosistem runtuh. Padahal, menjaga hutan yang masih utuh jauh lebih mudah daripada memulihkan yang sudah hancur.
Cara pandang terhadap lahan hutan juga perlu diperluas. Tanah yang tidak menghasilkan komoditas pertanian atau perkebunan sering dianggap belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, hutan yang dibiarkan tumbuh secara alami memberikan manfaat yang nilainya tidak kalah besar, hanya saja tidak mudah diukur dalam angka keuntungan usaha.
Tanah yang terlindungi dari erosi, sumber air yang terjaga, dan keanekaragaman hayati yang lestari adalah aset jangka panjang yang nilainya baru benar-benar terasa ketika sudah tidak ada.
Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat luas pun memiliki tanggung jawab yang sama besarnya. Pengawasan penggunaan lahan, pencegahan kebakaran sejak dini, pengelolaan perkebunan yang bertanggung jawab, serta dukungan nyata terhadap upaya pemulihan perlu berjalan beriringan. Semangat gotong royong warga tidak seharusnya dijadikan alasan bagi pihak lain untuk lepas tangan.
Kelak, jika benih-benih yang ditebar hari ini tumbuh menjadi pepohonan yang menjulang, manfaatnya tidak akan berhenti pada mereka yang menanamnya. Generasi berikutnya, yang mungkin tidak pernah tahu kisah di balik penghijauan itu, akan menikmati air bersih, udara yang lebih sejuk, dan tanah yang lebih subur karena keputusan yang diambil hari ini.
Tidak semua tindakan baik harus segera menghasilkan. Ada usaha yang buahnya baru bisa dipetik bertahun-tahun kemudian. Menanam pohon adalah salah satunya.
Dan di tengah segala deru pembangunan dan kepentingan ekonomi yang terus berputar, masih ada warga biasa di Kalimantan Timur yang memilih berjalan kaki di lahan bekas kebakaran, menebarkan benih, dan berharap alam mendapat kesempatan untuk pulih. Sebuah tindakan kecil yang maknanya jauh lebih besar dari yang terlihat di layar ponsel.
Karena pada akhirnya, tidak semua yang hijau adalah hutan. Dan tidak semua tanaman mampu menggantikan fungsi alam yang telah rusak. Menjaga hutan bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa kemajuan hari ini tidak mengorbankan kehidupan generasi yang akan datang.


0 Komentar