![]() |
| Illustrasi |
SINJAI, PACARITA - Satu hari tanpa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terasa beda bagi Fitriani Dayana Zulfi. Ibu dua anak yang tinggal di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, itu harus merogoh kocek lebih dalam dari biasanya hanya karena dapur MBG di sekolah anaknya tidak beroperasi pada Senin, 19 Oktober 2026.
Fitriani menuturkan pengalamannya itu melalui unggahan di Facebook. Ia menghitung, tanpa MBG, pengeluaran untuk satu anak dalam sehari bisa mencapai sekitar tiga puluh ribu rupiah, jauh lebih besar dibanding hari-hari biasa ketika program itu berjalan.
Ia menyebut, saat MBG tersedia, uang saku anaknya cukup lima ribu rupiah, dan itu pun sering tidak terpakai karena anak-anaknya sudah kenyang dengan makanan dari program tersebut. Namun ketika MBG terhenti, ia harus menyiapkan bekal nasi dari rumah, uang jajan tambahan, serta biaya membeli makanan dan minuman, mengingat tumbler yang dibawa tidak cukup untuk kebutuhan hingga sore hari, sebab anaknya mengikuti latihan ekstrakurikuler.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mulai dijalankan secara bertahap di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sinjai. Program ini menyasar siswa sekolah dengan menyediakan makanan bergizi setiap hari, lengkap dengan karbohidrat, serat, protein, buah, dan susu.
Bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan seperti Fitriani, kehadiran MBG bukan sekadar program pemerintah di atas kertas. Program itu hadir sebagai solusi nyata di meja makan, memastikan anak-anak tetap mendapat asupan gizi seimbang meski kondisi ekonomi keluarga terbatas.
Fitriani mengaku tidak selalu bisa menyiapkan bekal dengan menu lengkap. Kesibukan sehari-hari membuatnya sering hanya menyiapkan menu sederhana seperti nasi goreng atau nugget. Dengan MBG, ia merasa lebih tenang karena anak-anaknya mendapat makanan yang jauh lebih beragam dan bergizi dibanding yang bisa ia siapkan sendiri setiap hari.
Yang membuat Fitriani lebih bersyukur, anak-anaknya tidak pernah mengeluh soal menu yang disajikan dalam program tersebut. Setiap pulang sekolah, mereka selalu bercerita bahwa makanannya enak, bahkan mengungkapkan rasa syukur karena bisa makan lengkap setiap siang hari.
Penghentian sementara layanan MBG pada Senin itu memang hanya berlangsung sehari. Keesokan harinya, Fitriani sudah mendapat kabar bahwa dapur MBG kembali beroperasi dan layanan berjalan seperti biasa. Ia pun langsung menyampaikan rasa syukurnya melalui unggahan yang sama.
Peristiwa satu hari itu justru menjadi cermin betapa program ini sudah menyentuh kebutuhan riil masyarakat, bukan hanya dalam hal pangan, tetapi juga dalam hal manajemen keuangan keluarga sehari-hari. Bagi keluarga yang harus mengatur pengeluaran dengan sangat cermat, bahkan selisih dua puluh hingga tiga puluh ribu rupiah per hari bisa terasa signifikan dalam sebulan.
Fitriani pun menutup unggahannya dengan pernyataan yang cukup blak-blakan. Ia menyebut bahwa mereka yang terus memprotes program MBG bisa berpendapat berbeda, karena pada dasarnya manfaat program ini paling dirasakan oleh mereka yang berpenghasilan terbatas. Ia menegaskan, bagi keluarga yang berkecukupan, mungkin program ini tidak begitu terasa dampaknya, tetapi bagi keluarga sepertinya, MBG adalah bantuan yang sangat berarti.
Respons seperti yang ditunjukkan Fitriani menggambarkan realita di lapangan yang kerap luput dari perdebatan kebijakan di tingkat pusat. Saat para pengambil keputusan masih mendiskusikan efisiensi dan cakupan program, di tingkat rumah tangga, dampak konkret MBG sudah sangat dirasakan.
Di Kabupaten Sinjai, program ini dikelola melalui sejumlah dapur atau satuan pelayanan pemenuhan gizi yang tersebar dan melayani sekolah-sekolah di berbagai kecamatan. Ketika satu dapur tidak beroperasi, dampaknya langsung terasa oleh siswa dan orang tua yang mengandalkan layanan tersebut.
Gangguan operasional seperti ini tentu menjadi catatan penting bagi pengelola program. Keandalan layanan adalah kunci agar kepercayaan masyarakat terhadap MBG tetap terjaga, sekaligus memastikan program ini benar-benar memberikan dampak jangka panjang bagi generasi muda Indonesia.
Bagi Fitriani dan ribuan orang tua lain dengan kondisi serupa, harapannya sederhana, program ini terus berjalan tanpa gangguan, anak-anak tetap bisa makan siang dengan layak setiap hari, dan beban pengeluaran keluarga bisa sedikit lebih ringan.

0 Komentar